Warga Kota Palu Diimbau Hentikan Bakar Sampah

Daftar Isi

Rico Djanggola 
PALU, Radar Sulteng – Ketua DPRD Kota Palu, Rico Djanggola mengingatkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran di tengah cuaca panas, kering, dan berangin yang melanda Kota Palu.

Menurut Rico, kondisi tersebut membuat api lebih mudah muncul dan cepat menjalar, terutama di kawasan lahan terbuka, pekarangan, hingga pemukiman warga.

“Menurut saya, dengan kondisi cuaca di Palu saat ini memang sangat riskan dan gampang terjadi kebakaran. Cuaca yang panas terik, kering serta berangin dapat dengan mudah menjadi faktor kebakaran terjadi,” kata Rico kepada Radar Sulteng, Senin (7/09/2026).

Peringatan itu sejalan dengan meningkatnya kejadian kebakaran di Kota Palu sepanjang 2026. Data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Palu mencatat sedikitnya 318 kejadian kebakaran hingga awal September 2026. Agustus menjadi bulan dengan jumlah kejadian tertinggi, termasuk kebakaran lahan yang mencapai sekitar 60 kasus dari total 88 kejadian pada bulan tersebut.

Rico mengapresiasi respons cepat petugas pemadam kebakaran Kota Palu dan berbagai pihak yang turun bersama menangani setiap kejadian.

“Saya mengapresiasi respons cepat pemadam kebakaran Kota Palu dan pihak-pihak lain yang saling membantu memadamkan kebakaran yang terjadi,” ujarnya.

Ia menilai pencegahan tidak dapat hanya dibebankan kepada petugas Damkar. Masyarakat juga harus mengambil peran dengan menghindari tindakan yang dapat memicu api, terutama saat kondisi lingkungan sedang sangat kering.

Rico meminta warga tidak membakar sampah di pekarangan rumah maupun lahan terbuka. Ia juga mengingatkan agar puntung rokok dan sisa pembakaran tidak dibuang sembarangan karena percikan kecil dapat memicu api di tengah vegetasi yang mengering.

“Harapannya, seluruh masyarakat Kota Palu meningkatkan kewaspadaan dan membantu mengurangi risiko terjadinya kebakaran. Jangan membakar sampah, baik di pekarangan rumah maupun di lahan terbuka, dan jangan membuang puntung rokok atau sisa pembakaran sembarangan,” tegasnya.

Ancaman tersebut semakin relevan karena 2026 menjadi periode kemarau yang dipengaruhi fenomena El Niño. BMKG sebelumnya memperkirakan musim kemarau tahun ini cenderung lebih kering dan berlangsung lebih panjang, dengan puncak kemarau terjadi pada Agustus hingga September. El Niño juga meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan.

Dampaknya telah terlihat di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah. BPBD Sulteng mencatat 33 kejadian kebakaran hutan dan lahan sepanjang Januari hingga Agustus 2026, yang dipengaruhi kondisi kekeringan di tengah El Niño kuat.

Di Kota Palu, kondisi lahan kering juga telah beberapa kali mempercepat penyebaran api. Salah satunya kebakaran lahan sekitar satu hektare di Kelurahan Kabonena pada akhir Agustus lalu. Vegetasi kering, cuaca panas, dan sampah di lokasi membuat api cepat membesar.

Rico berharap kewaspadaan masyarakat dapat menjadi langkah awal menekan jumlah kebakaran selama musim kemarau. Ia menegaskan, mencegah api muncul jauh lebih penting daripada menunggu petugas berjibaku memadamkan kobaran yang sudah membesar. (AKA)