Usaha Penatu dan Pangkas Rambut Paling Terdampak Pemadaman
PALU SERING MATI LAMPU - Usaha penatu dan pangkas rambut yang paling merasakan seringnya pemadaman bergilir. Foto Andika Nur Hikmah
PLN Sibuk Rapat Ketika Dikonfirmasi
PALU, Radar Sulteng – Pemadaman listrik bergilir di Kota Palu dan sekitarnya selama bulan September 2026 ini mengakibatkan kerugian bagi pelaku jasa usaha kecil atau UMKM.
Beberapa UMKM, listrik yang mati tiba-tiba,
membuat mesin berhenti, pelanggan terpaksa menunggu, bahkan sebagian harus
pulang tanpa mendapat pelayanan.
Usaha pangkas rambut dan penatu dua sektor
yang merasakan langsung dampaknya. Ketergantungan penuh terhadap listrik
membuat kegiatan usaha praktis tersendat setiap kali pemadaman terjadi,
terlebih ketika waktunya berubah atau datang di luar jadwal.
Kiki, pemilik Zahra Laundry sekaligus Ketua
Asosiasi Laundry Indonesia (ASLI) Sulawesi Tengah, mengatakan pemadaman membuat
aktivitas penatu miliknya tidak bisa berjalan normal.
“Kalau mati lampu jelas mesin tidak berputar.
Jadi penyelesaian cucian lambat,” kata Kiki saat ditemui, Rabu (9/09/2026).
Bagi usaha penatu, listrik menjadi penopang
utama dari awal hingga akhir pekerjaan. Mesin cuci membutuhkan listrik, begitu
pula mesin pengering. Saat pasokan terputus, pekerjaan yang sedang berjalan
terpaksa berhenti dan cucian pelanggan harus menunggu.
“Kalau listrik padam, kami stop. Pengeringan
juga butuh listrik karena kami tidak mengandalkan jemur. Jadi pekerjaan ditunda
sampai listrik menyala kembali,” ujarnya.
Situasi itu membuat Zahra Laundry harus
menjelaskan kepada pelanggan mengenai kemungkinan keterlambatan penyelesaian
pesanan. Meski sebagian pelanggan memahami kondisi tersebut, Kiki mengaku
jumlah cucian yang masuk dalam beberapa hari terakhir mulai menurun.
Dalam kondisi normal, Zahra Laundry dapat
menerima lebih dari 100 kilogram cucian setiap hari. Sebagian besar konsumennya
merupakan pegawai yang menggunakan jasa penatu karena tidak memiliki cukup
waktu untuk mencuci sendiri.
Yang membuat pelaku usaha semakin sulit
mengatur pekerjaan, kata Kiki, bukan hanya durasi pemadaman, tetapi
ketidakpastian waktunya.
Pelaku usaha terkadang telah mempercepat
pekerjaan karena bersiap menghadapi pemadaman sesuai jadwal. Namun, listrik
tidak selalu padam pada waktu yang diinformasikan. Sebaliknya, ketika tidak ada
persiapan, pemadaman justru dapat datang tiba-tiba.
“Jadwal ada, tapi tidak pasti. Kadang bukan
jadwalnya justru mati lampu, pas jadwalnya malah tidak mati,” katanya.
Menurut Kiki, kondisi tersebut membuat pelaku
usaha berada dalam situasi serba sulit. Pekerjaan harus terus dikejar sebelum
listrik padam, sementara waktu pemadaman sendiri tidak selalu dapat dipastikan.
Ia berharap ada solusi yang dapat mengurangi
dampak terhadap aktivitas ekonomi, khususnya di kawasan perkotaan yang dipenuhi
berbagai usaha dengan ketergantungan tinggi terhadap listrik.
“Di kota banyak usaha yang butuh listrik.
Harapannya mungkin bisa ada solusi, supaya di perkotaan tidak terlalu sering
padam karena aktivitas pekerjaan banyak di kota,” ujarnya.
Dampak yang tak jauh berbeda dialami Reinal,
pelaku usaha pangkas rambut Mr D. Bagi barber, listrik bukan sekadar
penerangan. Sejumlah peralatan kerja membutuhkan pasokan daya agar pelayanan
kepada pelanggan dapat berjalan.
Ketika listrik padam saat jam operasional,
pelanggan yang datang bisa langsung kehilangan kesempatan mendapatkan layanan.
Pelaku usaha pun berada dalam posisi sulit karena harus menolak konsumen.
“Kalau pelanggan sudah datang, kami bingung
karena harus menolak akibat pemadaman. Tadi ada beberapa pelanggan yang saya
tolak,” kata Reinal.
Dampaknya tidak berhenti pada pelanggan yang
sudah berada di lokasi. Ketidakpastian pemadaman juga mulai memengaruhi
keputusan konsumen untuk datang.
Sebagian pelanggan memilih menunda karena
khawatir listrik padam ketika proses cukur sedang berlangsung.
“Sedikit sepi. Pelanggan juga bingung, jangan
sampai sementara sedang cukur tiba-tiba mati lampu,” ujarnya.
Bagi usaha pangkas rambut, waktu sore hingga
malam merupakan jam yang paling menentukan pemasukan. Pada waktu itulah
pelanggan mulai ramai datang setelah menyelesaikan pekerjaan dan aktivitas
harian.
Masalahnya, pemadaman juga dapat terjadi pada
jam tersebut.
“Jam emas kami itu sore sampai malam. Kalau
mati lampu tidak menentu di sore atau malam, itu yang jadi kendala,” katanya.
Di sisi lain, Kepala PLN UP3 Palu saat hendak
diwawancara di kantornya bahkan sampai dua kali tidak bersedia diwawancara
karena rapat. (bar/*)
.png)

