Soal Belajar di Singapura, Wim Minta ASN Berprestasi Ikut Diberangkatkan
Abdurrahim Nassar Al’amri
PALU, Radar Sulteng – Bukan cuma soal ke mana aparatur Pemkot Palu belajar, tetapi siapa yang pantas membawa pulang ilmunya.
Komposisi peserta program pengembangan
kompetensi ke Singapura dipertanyakan anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD
Kota Palu, Abdurrahim Nassar Al’amri alias Wim.
Wim mempertanyakan rencana yang melibatkan
pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) sebagai peserta. Menurutnya,
kesempatan pengembangan kapasitas semestinya turut mempertimbangkan aparatur
yang memiliki kemampuan serta prestasi di bidang masing-masing.
“Kenapa tidak orang-orang yang memang punya
kemampuan, yang berprestasi di masing-masing OPD itu yang dibawa?” tanya Wim
pada rapat, Selasa (22/09/2026).
Menurut politisi Demokrat itu, penentuan
peserta sebaiknya mengikuti kebutuhan pembelajaran. Jika terdapat persoalan
atau program tertentu yang membutuhkan pengetahuan khusus, aparatur yang
bersentuhan langsung dengan bidang tersebut dapat menjadi peserta.
“Kalau memang ada OPD yang membutuhkan
sesuatu, misalnya untuk satu program tertentu, itu yang kita pelajari,”
ujarnya.
Ketua Komisi C itu juga meminta kejelasan
mengenai apa yang akan dipelajari setiap peserta selama berada di Singapura.
Bagi Wim, perbedaan kebutuhan antar-OPD perlu tercermin dalam sasaran kegiatan
sehingga hasil pembelajaran tidak berhenti pada pengalaman perjalanan.
Pertanyaan tersebut turut menyentuh rencana
keberangkatan camat. Dari delapan kecamatan di Kota Palu, lima camat definitif
direncanakan mengikuti program, sedangkan tiga kecamatan lainnya masih dipimpin
pelaksana tugas.
Menanggapi hal itu, Kepala Badan Kepegawaian
dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BKPSDMD) Kota Palu, John Yus
Madoli, menjelaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari pengembangan
kompetensi aparatur sipil negara (ASN).
“ASN itu harus mengembangkan kompetensi,” kata
John dalam pemaparan kepada Banggar.
John juga menjelaskan, program telah disusun
dalam kerangka acuan kerja (TOR) dan dikaji bersama Lembaga Administrasi Negara
(LAN). Rencana tersebut membagi perangkat daerah ke dalam kelompok sesuai
bidang pembelajaran.
Sementara itu, Kepala BPKAD Kota Palu Romy
Sandi Agung menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar perjalanan ke luar
negeri. Program itu merupakan bagian dari pendidikan dan pelatihan yang diarahkan
pada penguatan kompetensi manajerial pimpinan OPD.
“Jadi sebenarnya bukan kunjungan luar
negerinya. Tetapi bagaimana pimpinan OPD ini bisa mengembangkan kompetensi
manajerial. Itu yang paling penting,” jelas Romy.
Pembahasan Banggar kemudian menempatkan
komposisi peserta sebagai salah satu aspek yang perlu diperjelas, terutama
mengenai kesesuaian peserta dengan kebutuhan pembelajaran dan manfaat yang
dapat diterapkan setelah program selesai. (AKA)
.png)

