SMKN 8 Palu Minta Ortu Bayar Biaya Praktik Geologi

Daftar Isi

Rahmi

Sekolah Mengaku Untuk Makan Minum dan Biaya Masuk

PALU, Radar Sulteng - Dugaan pungutan terhadap siswa mencuat di SMKN 8 Palu. Keluhan dari beberapa orang tua siswa menyebut adanya penarikan Rp20 ribu untuk kartu siswa serta biaya sekitar Rp225 ribu bagi siswa Jurusan Geologi yang mengikuti kegiatan turun lapangan.

Beberapa orang tua mempertanyakan dasar penarikan tersebut. Mereka menilai biaya yang dibebankan kepada siswa perlu dijelaskan secara terbuka, termasuk peruntukan dan mekanisme pengelolaan uang yang dikumpulkan.

Menanggapi hal itu, Plt Kepala SMKN 8 Palu, Rahmi, membenarkan adanya pembayaran dari siswa. Namun, ia menjelaskan pembayaran tersebut dilakukan untuk kebutuhan tertentu dan tidak seluruhnya merupakan pungutan yang diwajibkan sekolah.

Untuk kartu siswa, Rahmi mengatakan pembayaran Rp20 ribu memang sempat dilakukan oleh sejumlah siswa kelas 10. Menurutnya, anggaran pembuatan kartu sebenarnya sudah dimasukkan dalam Dana BOSP tahap II.

Persoalannya, pencairan dana tersebut mengalami keterlambatan. Sementara itu, sejumlah siswa, khususnya dari Poboya, membutuhkan kartu siswa lebih cepat untuk keperluan mendapatkan tunjangan dari CPM.

Karena bahan kartu belum tersedia, sekolah memberikan pilihan kepada siswa yang membutuhkan agar membayar terlebih dahulu Rp20 ribu untuk pembelian bahan kartu.

Rahmi menyebut pembayaran tersebut hanya bersifat sementara. Setelah Dana BOSP tahap II cair, uang yang sebelumnya dikeluarkan siswa akan dikembalikan.

Menurutnya, pengembalian tersebut kini telah dilakukan kepada seluruh siswa yang sebelumnya membayar.

“Sudah dikembalikan semua itu uang Rp20 ribu yang kami sudah pungut dari siswa,” kata Rahmi saat ditemui di ruangannya, Senin (31/08/2026).

Jumlah siswa yang sebelumnya membayar disebut sekitar 20 orang, seluruhnya dari kelas 10.

Rahmi juga menegaskan tidak ada kewajiban bagi seluruh siswa untuk membayar Rp20 ribu. Siswa yang belum membutuhkan kartu dapat menunggu hingga sekolah memperoleh bahan dari anggaran BOSP.

“Kalau untuk dari sekolah mencetakkan itu, kita tunggu tahap dua dulu cair baru kita beli bahannya,” ujarnya.

Sementara itu, persoalan biaya kegiatan lapangan Jurusan Geologi memiliki mekanisme berbeda. Rahmi mengoreksi nominal yang disampaikan dalam laporan orang tua dari Rp225 ribu menjadi sekitar Rp205 ribu.

Menurutnya, uang tersebut digunakan untuk kebutuhan siswa selama kegiatan di Pantai Marantale. Rinciannya antara lain makan, cemilan ringan, sewa tempat dan biaya masuk lokasi.

Untuk transportasi, Rahmi menyatakan biaya tersebut tidak dibebankan kepada siswa melalui uang Rp205 ribu. Transportasi disebut menggunakan Dana BOSP sekitar Rp6 juta untuk menyewa tiga kendaraan.

Kegiatan lapangan tersebut merupakan bagian dari praktik pembelajaran Jurusan Geologi. Rahmi menjelaskan siswa melakukan pengukuran air laut dan pasang surut dalam kegiatan yang berlangsung hingga sekitar 24 jam.

Kebutuhan konsumsi selama kegiatan juga cukup besar karena siswa harus melakukan aktivitas hingga malam. Makanan ringan, kopi dan teh disiapkan selama kegiatan berlangsung.

Rahmi mengatakan kegiatan praktik lapangan merupakan kebutuhan pembelajaran di SMK, terutama bagi Jurusan Geologi yang menurutnya memang lebih banyak melakukan praktik langsung.

“Memang kita harus sering-sering turun lapangan,” katanya.

Mengenai penarikan biaya kegiatan, Rahmi mengatakan pihak sekolah terlebih dahulu berkomunikasi dengan orang tua siswa. Pembahasan dilakukan melalui grup orang tua.

Ia mengklaim tidak ada orang tua yang menyampaikan keberatan dalam pembahasan tersebut. Bahkan, menurutnya, sejumlah orang tua menyatakan siap membantu apabila biaya transportasi tidak dapat ditanggung sekolah.

Rahmi juga menyebut pembiayaan kegiatan telah dibahas bersama komite sekolah.

Menurutnya, sekolah harus membagi anggaran karena SMKN 8 Palu memiliki empat jurusan yang sama-sama membutuhkan kegiatan praktik. Jika seluruh kebutuhan kegiatan lapangan dibebankan kepada Dana BOSP, anggaran dinilai tidak akan cukup untuk mengakomodasi seluruh jurusan.

“Kalau kita mau anggarkan semua, apalagi Geologi itu yang terbanyak siswanya, pasti kasihan jurusan lain. Tidak tercover nanti,” jelasnya.

Di sisi lain, Rahmi mengaku belum menerima keluhan secara langsung dari siswa maupun orang tua terkait pembayaran tersebut.

Namun, ia memastikan sekolah terbuka jika ada orang tua yang merasa keberatan dan ingin meminta penjelasan. Pihak sekolah, kata dia, akan menjelaskan penggunaan dana dan membahas persoalan tersebut bersama orang tua.

“Kalau misalnya keberatan dan mengajukan keberatan, pasti saya akan mengajak diskusi, akan menjelaskan seperti apa kegunaannya,” katanya.

Rahmi juga menyatakan kondisi ekonomi siswa menjadi pertimbangan sekolah. Ia mencontohkan seorang siswa yatim piatu yang tinggal bersama neneknya pernah dibantu oleh Kepala Program Keahlian agar tetap dapat mengikuti kegiatan lapangan bersama siswa lainnya

Pihak sekolah menyatakan seluruh pembayaran memiliki peruntukan dan mekanisme masing-masing serta membuka ruang bagi orang tua yang ingin meminta penjelasan.(AKA)