Safri Ingatkan Prabowo Hilirisasi Beri Manfaat Nyata bagi Sulteng
![]() |
| SAFRI |
Safri menilai besarnya aktivitas pertambangan
dan industri hilirisasi di Sulawesi Tengah harus diikuti dengan manfaat yang
sepadan bagi masyarakat. Menurutnya, kekayaan alam yang berasal dari daerah
semestinya tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi di tingkat nasional, tetapi
juga memperkuat kesejahteraan masyarakat serta kapasitas fiskal daerah.
“Kekayaan yang berasal dari daerah harus
memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” demikian pandangan Safri yang
disampaikan dalam materi komunikasinya terkait evaluasi kebijakan hilirisasi di
Sulawesi Tengah.
Safri menekankan bahwa investasi dan
hilirisasi memang penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan
kerja, serta meningkatkan nilai tambah sumber daya alam. Namun, kebijakan
tersebut harus mampu menyeimbangkan kepentingan investasi, penerimaan negara,
kepentingan daerah, dan kesejahteraan masyarakat.
Ia juga menyoroti pentingnya mengevaluasi
berbagai fasilitas fiskal yang diberikan kepada industri, seperti tax holiday,
tax allowance, relaksasi perpajakan, serta pembebasan atau pengurangan
kewajiban tertentu.
Menurut Safri, pemberian insentif investasi
perlu disertai batas waktu, indikator keberhasilan yang jelas, dan evaluasi berkala.
Dengan demikian, fasilitas fiskal dapat benar-benar menjadi instrumen
pembangunan dan tetap tepat sasaran.
“Insentif investasi boleh diberikan sebagai
bagian dari strategi pembangunan. Tetapi harus ada ukuran keberhasilannya dan
evaluasi secara berkala. Ketika industri sudah berkembang dan memiliki
kemampuan ekonomi yang kuat, pemerintah perlu memastikan kontribusinya terhadap
negara dan daerah juga semakin optimal.”
Jangan Hanya Menghitung Nilai Investasi
Safri berpandangan bahwa evaluasi terhadap
industri hilirisasi tidak cukup hanya dengan melihat besarnya investasi yang
masuk. Pemerintah perlu menghitung manfaat secara menyeluruh, mulai dari jumlah
lapangan kerja, nilai sumber daya alam yang dimanfaatkan, nilai tambah yang
tercipta, hingga pajak dan royalti yang diterima negara serta daerah.
Yang tidak kalah penting, kata dia, adalah
mengukur seberapa besar manfaat tersebut kembali dirasakan oleh masyarakat.
“Dari sana kita bisa melihat apakah kebijakan
tersebut sudah memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat,” ujarnya.
Safri juga menyoroti adanya perbedaan nilai
antara komoditas pada tahap hulu dengan produk setelah melalui proses
pengolahan dan pemurnian. Karena itu, daerah penghasil sumber daya alam tidak
boleh hanya memperoleh manfaat dari sektor hulu, sementara nilai tambah
terbesar justru tercipta di kawasan industri.
“Jangan sampai daerah hanya menerima manfaat
dari sisi hulu, sementara nilai tambah terbesar tercipta di kawasan industri.”
Safri menyatakan semangat tersebut sejalan dengan
komitmen PKB yang menjadikan Pasal 33 dan Pasal 34 UUD 1945 sebagai salah satu
landasan dalam memperjuangkan pengelolaan kekayaan negara agar kemakmuran dapat
dirasakan secara merata oleh seluruh rakyat Indonesia.
Dalam konteks Sulawesi Tengah, ia berharap
kebijakan pemerintah pusat terkait hilirisasi benar-benar dapat dirasakan
langsung oleh masyarakat daerah penghasil.
“Kalau Presiden serius mengatakan kekayaan
alam harus dinikmati rakyat, maka Sulawesi Tengah harus menjadi salah satu
daerah yang merasakan langsung kebijakan itu,” tegas Safri.
Ia pun mendorong agar peningkatan nilai tambah
sumber daya alam diikuti dengan peningkatan kontribusi fiskal, pembangunan
infrastruktur, peningkatan kualitas pelayanan publik, serta penguatan
kesejahteraan masyarakat.
Menurut Safri, keberhasilan hilirisasi pada
akhirnya tidak hanya diukur dari banyaknya investasi yang masuk atau
berkembangnya kawasan industri, tetapi juga dari seberapa besar kekayaan alam
tersebut mampu dikonversi menjadi kemakmuran rakyat dan manfaat nyata bagi
daerah. (bar/*)
.png)

