Revitalisasi Dimulai, 700 Lapak UMKM Pasar Inpres Dibangun
![]() |
| Ismayadin Parigade |
PALU, Radar Sulteng – Penataan Pasar Inpres Manonda mulai
memasuki babak baru. Pemerintah Kota Palu menyiapkan sekitar 700 lapak UMKM
sebagai tempat relokasi pedagang yang selama ini berjualan di bahu jalan,
trotoar hingga kawasan Jalan Cempedak.
Pembangunan fasilitas tersebut telah berkontrak dengan nilai
sekitar Rp1,9 miliar. Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Palu, Ismayadin
Parigade, mengatakan pembangunan lapak menjadi bagian awal dari pembenahan
kawasan Pasar Inpres secara bertahap.
“Yang kami lakukan kemarin sudah berkontrak sekitar Rp1,9
miliar, hampir Rp2 miliar untuk penataan secara keseluruhan,” kata Ismayadin.
Ia menjelaskan, kapasitas 700 lapak disesuaikan dengan lahan
yang tersedia. Sementara berdasarkan data yang diterima Dinas PU, pedagang yang
beraktivitas di luar kawasan pasar diperkirakan mencapai 500 hingga 600 orang.
Dengan kapasitas tersebut, pemerintah masih memiliki ruang
untuk menampung pedagang yang belum terdata maupun pelaku usaha yang tidak
menetap.
“Data yang saya dapat dari UMKM sekitar 600-an. Berarti
masih ada sekitar 100 yang kemungkinan bisa nanti ketika ini jadi,” ujarnya.
Penataan ini tidak berdiri sendiri. Sebelumnya, Wali Kota
Palu Hadianto Rasyid turun langsung meninjau kawasan Pasar Inpres Manonda pada
4 Juni 2026. Dalam kunjungan itu, wali kota melihat kondisi kebersihan dan
ketertiban kawasan sekaligus menegur sejumlah pedagang yang masih menggunakan
tepi jalan sebagai lokasi berjualan. (Pemerintah Kota Palu)
Penggunaan bahu jalan dinilai mengganggu kelancaran lalu
lintas, kenyamanan pengguna jalan serta ketertiban lingkungan. Setelah
kunjungan tersebut, Pemkot Palu melakukan pendataan pedagang yang berjualan di
bahu jalan maupun menggunakan kendaraan sebagai tempat usaha.
Ismayadin menegaskan, pemerintah tidak ingin penertiban
berhenti pada pemindahan pedagang. Tempat usaha baru disiapkan agar aktivitas
ekonomi tetap berjalan tanpa mengorbankan fungsi jalan dan ruang publik.
“Harapannya pemerintah kawasan itu ditertibkan, artinya
ditertibkan tapi dicarikan solusi. Mereka dipindahkan nanti di kawasan
tersebut,” jelasnya.
Selain lapak, kawasan sekitar pasar juga akan dibenahi.
Dinas PU merencanakan penataan Jalan Kemiri yang terhubung dengan Jalan Sis
Al-Jufri, pembangunan pedestrian, serta pembenahan Jalan Cempedak.
Akses menuju pasar juga diarahkan lebih teratur sehingga
aktivitas perdagangan tidak kembali memicu kepadatan kendaraan.
“Ketika masyarakat mau berbelanja ke pasar itu tidak
berpikir, aduh kalau ke pasar ini macet. Jadi pemerintah ini membuat, mengarah
ke memberikan solusi,” katanya.
Sistem parkir turut masuk dalam rancangan penataan.
Pemerintah menyiapkan pola in-out, sehingga kendaraan memiliki jalur masuk dan
keluar yang jelas. Selain membuat kawasan lebih tertib, sistem tersebut
diharapkan dapat mendukung peningkatan pendapatan asli daerah melalui
pengelolaan parkir.
Pembenahan bagian luar menjadi prioritas sebelum pemerintah
menyentuh kawasan inti pasar. Ismayadin menyebut penataan bagian dalam Pasar
Inpres direncanakan berlanjut pada 2027.
“Konsep secara keseluruhan itu kami akan lakukan nanti di
tahun 2027 terkait pasarnya dalam pasar,” ujarnya.
Rencana tersebut sebenarnya telah disiapkan Pemkot sejak
2025. Hadianto saat itu menyampaikan konsep revitalisasi Pasar Inpres Manonda
dengan bangunan semi terbuka dan desain dua tingkat. Pedagang dari sejumlah
ruas, termasuk Jalan Labu, Kacang Panjang dan Cempedak, diarahkan masuk ke
dalam kawasan pasar.
Revitalisasi juga menjadi bagian dari tindak lanjut setelah
kebakaran yang melanda sebagian Pasar Inpres pada Juli 2025. Saat meninjau
lokasi pascakebakaran, Hadianto menginstruksikan pembersihan dan menyatakan
bagian pasar yang menjadi aset Pemkot akan direvitalisasi dengan tempat
berjualan permanen yang lebih baik.
Kini, penataan itu mulai diterjemahkan melalui pembangunan
lapak, pembenahan akses, pedestrian dan parkir. Pemerintah berharap seluruh
fasilitas tersebut tidak hanya berdiri secara fisik, tetapi diikuti pengelolaan
lintas-OPD agar kawasan Pasar Inpres dapat berfungsi lebih tertib dan memberi
manfaat ekonomi bagi pedagang maupun daerah.
“Jangan sampai ada OPD yang sesuai dengan tugas fungsinya
tidak berperan. Tidak boleh ego sektoral. Ketika sudah selesai desainnya, OPD
lain sudah harus siap,” tegasnya. (AKA)
.png)

