RAPBN Rp4.097 Triliun, Sulteng Dapat Apa?
PALU, Radar Sulteng - Ketua Fraksi PKB DPRD Sulawesi Tengah
(Sulteng) sekaligus sekretaris komisi III DPRD Sulteng. Muhammad Safri,
mempertanyakan dampak nyata dari Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (RAPBN) 2027 yang nilainya mencapai hampir Rp4.097 triliun bagi daerah,
khususnya Sulteng. Baginya, besaran belanja negara dan target pertumbuhan
ekonomi bukan satu-satunya tolok ukur keberhasilan anggaran yang lebih penting
adalah kontribusinya terhadap pembangunan dan layanan publik di tingkat daerah.
Muh. Safri
"Kalau APBN kita hampir Rp4.100 triliun dan disebut
ekspansif, pertanyaannya sederhana, seberapa besar dampaknya bagi daerah?
Khususnya Sulawesi Tengah yang selama ini menjadi salah satu penopang
pertumbuhan ekonomi nasional melalui sumber daya alam dan hilirisasi,"
ungkap Safri saat diwawancarai melalui telepon, Kamis (03/09/2026).
Safri menyebut Sulteng menyumbang peran strategis bagi
perekonomian nasional lewat sektor pertambangan, kawasan industri, dan
hilirisasi yang tumbuh pesat, khususnya di Morowali dan Morowali Utara. Ia
mengingatkan agar geliat ekonomi ini tidak semata dilihat dari sisi investasi
dan volume produksi, tetapi harus dibarengi kapasitas fiskal daerah yang cukup
untuk menopang berbagai beban pembangunan yang timbul dari pertumbuhan
tersebut.
Ia meminta agar pembahasan RAPBN 2027 tidak berhenti pada
angka-angka makro seperti laju pertumbuhan ekonomi, total belanja negara,
maupun besaran Transfer ke Daerah (TKD) secara nasional. Yang perlu dipastikan,
menurutnya, adalah apakah rumus transfer ke daerah sudah mengakomodasi
perbedaan kontribusi dan kebutuhan tiap wilayah. Ia mencontohkan, daerah
seperti Sulteng memerlukan alokasi anggaran yang layak karena pertumbuhan
ekonominya juga memunculkan konsekuensi di sektor infrastruktur, pendidikan,
kesehatan, lingkungan, hingga pelayanan publik.
"Yang harus dilihat bukan hanya berapa besar APBN
secara nasional, tetapi berapa besar ruang fiskal yang benar-benar tersedia bagi
daerah untuk membangun," ujanya.
Di luar persoalan ruang fiskal, Safri menyinggung kewajiban
pemerintah pusat yang belum tuntas terhadap daerah, yakni kurang salur Dana
Bagi Hasil (DBH) Sulteng untuk tahun 2023 dan 2024 yang ditaksir mencapai
sekitar Rp523,7 miliar. Baginya, ini bukan sekadar catatan administratif,
melainkan menyangkut langsung kapasitas daerah dalam membiayai pembangunan. Ia
menilai, jika kewajiban ini diselesaikan, daerah otomatis memperoleh tambahan
ruang fiskal untuk memperkuat infrastruktur dan layanan publik.
"Kalau hak daerah diselesaikan, pemerintah daerah punya
ruang lebih besar untuk bergerak. Infrastruktur bisa diperkuat, pelayanan
publik ditingkatkan dan program pembangunan bisa berjalan," jelasnya.
Safri juga mendorong agar kebijakan hilirisasi dievaluasi
dari perspektif keadilan fiskal, bukan sekadar dilihat dari besaran investasi,
capaian produksi, atau volume ekspor. Ia menegaskan, pemerintah pusat perlu
memastikan wilayah yang menjadi lokasi aktivitas industri turut menikmati
manfaat yang setara — mengingat Sulawesi Tengah bukan cuma pemasok bahan
mentah, melainkan juga rumah bagi proses pengolahan, kawasan industri,
penyerapan tenaga kerja, dan roda ekonomi berskala besar. Kondisi ini,
menurutnya, menjadi dasar kuat untuk meninjau ulang pola hubungan keuangan
pusat-daerah, terutama bagi wilayah yang menjadi sumber daya alam sekaligus
pusat hilirisasi.
Meski begitu, Safri menegaskan tidak sedang menolak semangat
optimisme dan ekspansif dari RAPBN yang disusun pemerintah. Yang ia tekankan,
kebijakan itu harus benar-benar sampai dan dirasakan masyarakat di daerah.
"Optimisme itu penting. Tetapi bagi kami di daerah,
ukuran akhirnya adalah manfaat. Apakah jalan dibangun, sekolah diperbaiki,
rumah sakit diperkuat, pelayanan publik meningkat dan masyarakat merasakan
dampak pertumbuhan ekonomi," tegas Safri.
Sebagai salah satu bagian dari DPRD Sulteng, Ia menutup
dengan menegaskan bahwa kritiknya merupakan bentuk kontrol publik dan bagian
dari memperjuangkan kepentingan daerah, bukan ditujukan pada figur tertentu,
termasuk para wakil rakyat asal Sulteng di DPR RI.
"Kami tentu menghargai setiap perjuangan anggota DPR RI
Dapil Sulteng. Tetapi sebagai bagian dari kontrol publik dan aspirasi daerah,
kita harus terus mengingatkan bahwa Sulteng membutuhkan kebijakan fiskal yang
semakin adil. Ini bukan soal siapa yang berbicara, tetapi bagaimana kebijakan
negara benar-benar memberi manfaat bagi rakyat Sulteng,"tutupnya. (ZAR)
.png)
