Oknum Dekan FKM Untad Sebut Wartawan Provokator
![]() |
| Rosmala Nur |
PALU, Radar Sulteng – Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Tadulako (Untad), Prof. Rosmala Nur, menyebut wartawan Provokator ketika dikonfirmasi terkait alat pelindung diri (APD) untuk program mencegah TBC di Sulteng.
Kejadian itu berlangsung di Gedung Dekanat FKM
Untad, Kamis siang (17/09/2026) sekitar pukul 12.00 WITA. Wartawan sebelumnya
datang sekitar pukul 11.00 WITA ketika Prof Rosmala masih mengikuti rapat
evaluasi Program Berani Magaya.
Seusai rapat, wartawan melakukan doorstop untuk
meminta penjelasan mengenai hasil evaluasi. Pertanyaan diarahkan pada sejumlah
informasi dari mahasiswa peserta program, antara lain soal APD, pola
pendampingan pasien TB serta pelaksanaan di lapangan.
Namun, pembahasan bergeser ketika Prof.
Rosmala berulang kali mempertanyakan mahasiswa yang menjadi sumber informasi.
“Siapa mahasiswa yang mau lapor? Siapa!” ujar
Prof. Rosmala sembari mencari tahu identitas.
Wartawan kemudian kembali meminta penjelasan
mengenai APD. Prof. Rosmala membantah perlengkapan tersebut dibebankan kepada
mahasiswa.
“Tidak ada dibebankan kepada mahasiswa,” kata
Dekan perempuan kelahiran 1 Juli, 1971 itu.
Ia menyebut masker telah diberikan dan rompi
juga sudah tersedia meski terbatas. “Rompi itu mahal lebih dari Rp 100 ribu,”
katanya.
Guru besar itu lalu mengajak wartawan masuk ke
ruang rapat untuk melihat perlengkapan yang tersedia. Dalam pengamatan
wartawan, terlihat sekitar satu atau dua dus masker N95 di ruangan tersebut.
Meski demikian, pertanyaan yang diajukan bukan
sekadar soal keberadaan masker, melainkan hasil evaluasi secara utuh dan
langkah tindak lanjut terhadap keluhan mahasiswa.
“Hasil evaluasinya bagus. Semua sudah langsung
bagus,” ujarnya
Saat pertanyaan dilanjutkan mengenai
pelaksanaan pendampingan pasien, respons Prof Rosmala berubah.
“Jangan mengada-ngada ya!" kata Dekan itu
dengan tegas.
“Kamu terlalu mau membenci institusi,”
ujarnya.
Tidak lama kemudian, ia mengatai dan menuduh
wartawan sebagai penghasut.
“Kamu XXX (nama media, red) provokator!"
kata Dekan yang juga disebut sebagai Dosen Berprestasi.
Dekan yang disebut sebagai "Dosen
Terfavorit" FKM Untad itu kemudian beranjak menuju lantai dua tempat ruang
kerjanya dengan tergesa-gesa.
Sebelumnya, ada mahasiswa peserta Program
Berani Magaya menyampaikan sejumlah pertanyaan mengenai pelaksanaan program.
Salah seorang mahasiswa yang meminta identitasnya tidak disebutkan, menegaskan
bahwa pihaknya bukan menolak program.
“Program ini sebenarnya bagus. Cuman dalam
implementasinya yang harus diperjelas,” katanya.
Mahasiswa tersebut mempertanyakan perlindungan
saat turun ke lapangan. Ia menyebut perlengkapan APD yang diterima masih
terbatas. APBD yang tidak disediakan sarung tangan, rompi dilengkapi atribut
mahasiswa, suplemen vitamin.
“Masker itu sebagian daripada APD. Harusnya
APD lengkap,” ujarnya.
Mereka juga mempertanyakan screening mahasiswa
yang disebut dalam petunjuk teknis, tetapi menurut narasumber belum terlaksana
sebagaimana yang diharapkan.
Kejelasan asuransi turut dipertanyakan.
Mahasiswa mengaku belum mengetahui bentuk perlindungan yang akan diterima.
“Kami hanya dijanjikan asuransi. Tapi tidak
ada spesifik asuransi,” katanya.
Salah satu peserta juga mengaku ketika pertama
kali turun, ia mendapatkan pasien yang baru sekitar 10 hari menjalani
pengobatan TB.
Berani Magaya merupakan program penanggulangan
TB yang diinisiasi FKM Untad untuk mendukung eliminasi TB 2030. Program ini
melibatkan mahasiswa dalam pendampingan pasien dan keluarga, termasuk
pemantauan pengobatan, edukasi serta pencegahan penularan terhadap kontak erat.
Di satu sisi, mahasiswa meminta sejumlah
mekanisme pelaksanaan diperjelas. Di sisi lain, Prof. Rosmala menyatakan hasil
evaluasi program baik dan membantah APD dibebankan kepada mahasiswa. (AKA)
.png)

