Masuk Oktober, Pasokan Listrik PLTA Poso Bergantung Curah Hujan

Daftar Isi

PLTA Sulewana Poso. Dok KALA

SULEWANA, Radar Sulteng – Fenomena El Nino yang melanda Indonesia, termasuk Sulawesi Tengah, sejak awal semester II 2026 menyebabkan musim kemarau berkepanjangan. Kondisi tersebut mulai berdampak terhadap masyarakat, khususnya petani dan sektor perkebunan.

Sejumlah tanaman perkebunan di lahan warga dilaporkan mulai mengering akibat minimnya curah hujan dalam beberapa bulan terakhir.

Dampak lainnya dirasakan masyarakat dengan adanya pemadaman listrik secara bergilir oleh PT PLN (Persero). Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan berkurangnya pasokan energi listrik dari salah satu pemasok utama, PT Poso Energi yang beroperasi di Sulewana, Kabupaten Poso.

Menanggapi kondisi tersebut, Radar Sulteng melakukan konfirmasi kepada manajemen PT Poso Energi terkait pengaruh musim kemarau terhadap produksi listrik perusahaan yang dipasok ke PLN.

Manager PT Poso Energi, Asmaruddin, mengakui saat ini terjadi penurunan elevasi Danau Poso yang memengaruhi pola operasi waduk. Namun, menurutnya, produksi energi masih dapat terpenuhi sesuai rencana.

Ia menjelaskan, curah hujan pada periode Oktober hingga Desember menjadi salah satu faktor yang akan menentukan ketersediaan pasokan air dan produksi energi.

“Fenomena El Nino di musim kemarau semester II Tahun 2026 menyebabkan berkurangnya curah hujan di wilayah catchment area Danau Poso, yang mengakibatkan penurunan elevasi Danau Poso lebih rendah dibandingkan dengan musim kemarau tahun-tahun sebelumnya,” kata Asmaruddin melalui pesan WhatsApp kepada Radar Sulteng, Rabu (2/9/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut dapat memengaruhi pola operasi waduk. Namun, produksi energi masih dapat terpenuhi sesuai rencana apabila pada akhir Oktober hingga Desember telah memasuki musim penghujan dengan intensitas curah hujan di atas normal.

“Jika intensitas di bawah normal, pasokan listrik berpotensi akan berkurang,” ujarnya.

Asmaruddin mengatakan, PT Poso Energi telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi untuk menjaga ketersediaan energi selama musim kemarau.

Pertama, produksi energi pada semester II saat musim penghujan diproyeksikan lebih besar, yakni sekitar 55 persen. Dengan demikian, produksi pada musim kemarau semester II berada di kisaran 45 persen.

“Kami telah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada musim hujan di bulan Mei 2026, sebagai bentuk ikhtiar untuk penambahan inflow ke Danau Poso,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga melakukan penyesuaian jadwal produksi. Sebagian produksi yang semula dialokasikan pada bulan puncak kemarau, yakni September-Oktober, digeser ke November-Desember melalui persetujuan PLN.

“Kami menggeser sebagian produksi melalui persetujuan PLN pada bulan puncak kemarau, yakni September-Oktober, ke November-Desember,” katanya.

Saat ditanya apakah PT Poso Energi akan kembali melakukan rekayasa cuaca seperti yang dilakukan pada semester pertama 2026, Asmaruddin mengatakan langkah tersebut tidak dilakukan untuk saat ini.(dy)