Manajemen Distribusi BBM Picu Kelangkaan Solar
PALU, Radar Sulteng - Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terjadi di sejumlah daerah di Sulawesi Tengah (Sulteng) termasuk Kabupaten Parigi Moutong, terkait antrean BBM di sejumlah SPBU.
Musliman anggota komisi III DPRD Sulteng menjelaskan, Komisi
III saat ini belum secara khusus melakukan pengawasan terhadap persoalan
kelangkaan BBM tersebut, mengingat pihaknya baru saja menyelesaikan agenda
monitoring dan evaluasi pembangunan jalan provinsi selama hampir satu minggu.
"Kalau Komisi lll belum mengawasi hal itu sampai ke
sana, karena kami ini kemarin bertugas mengawasi hampir satu minggu, kita jalan
untuk melakukan monitoring dan evaluasi tentang pembangunan jalan provinsi di
Sulawesi Tengah," ujarnya saya ditemui usai rapat Paripurna di kantor DPRD
Sulteng jalan Moh Yamin. Rabu, (16/9/1016).
Ia mengungkapkan, dalam perjalanan monitoring tersebut
pihaknya memang menemukan sejumlah SPBU yang mengalami kelangkaan BBM.
Menurutnya, kelangkaan tersebut terkait dengan sistem pembagian kuota dari
Pertamina, yang menurutnya kewalahan karena pasokan minyak yang masuk ke
Indonesia tidak lagi seperti biasanya, dipengaruhi kondisi geopolitik global
serta kebijakan pengembangan biosolar berbahan dasar sawit.
Musliman menjelaskan, pemerintah tengah mendorong penggunaan
biosolar guna mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM solar, termasuk
melalui produk Pertamina Dex serta pengembangan bahan bakar campuran B50. Ia
menyebut perubahan manajemen distribusi, dari sebelumnya mengirim bahan mentah
minyak ke luar negeri untuk diolah menjadi bahan jadi, kini diputus dan
diarahkan pada pengolahan dalam negeri, turut menjadi salah satu faktor yang
memengaruhi kelancaran distribusi BBM.
"Manajemen pemutusan ini yang membuat kita terjadi
pembaharuan. Pembaharuan ini yang tidak lancar juga, sehingga itu salah satu
manajemen juga membuat salah satu kelangkaan BBM ini," jelasnya.
Ia menambahkan, pihaknya bersama Gubernur Sulteng telah
menyampaikan desakan kepada Pertamina agar distribusi BBM dapat berjalan lebih
kontinue, mengingat solar merupakan kebutuhan vital, khususnya bagi sektor
transportasi dan pengangkutan barang yang mengandalkan bahan bakar bersubsidi.
Musliman menyebut, harga solar bersubsidi untuk masyarakat umum
saat ini berada di bawah Rp10 ribu, sementara solar untuk kebutuhan industri
dipatok tetap di atas Rp16 ribu. Ia menegaskan persoalan kelangkaan ini bukan
disengaja, melainkan dampak dari perubahan sistem yang tengah diperbaiki
pemerintah tanpa mengganggu kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, menanggapi keluhan warga terkait harga eceran
BBM khususnya Pertalite yang mencapai Rp15 ribu perbotol kaca dan Rp30 ribu per
botol kemasan air mineral disejumlah daerah khususnya Parimo, Musliman
menjelaskan harga eceran turut dipengaruhi jarak dan biaya transportasi ke
lokasi penjualan, khususnya di daerah
terpencil.
"Itu tergantung jauhnya saja. Kalau memang agak jauh,
ya pasti agak mahal karena itu transportasi," ujarnya.
Ia menegaskan, harga BBM di tingkat SPBU resmi tidak pernah
mengalami kenaikan, namun untuk penjualan eceran atau pengecer, pemerintah
tidak dapat mengontrol sepenuhnya karena sudah masuk ranah mekanisme bisnis
pihak ketiga. Meski begitu, ia berharap kenaikan harga oleh pengecer tetap
berada dalam batas wajar.
"Kita berharap jangan sampai terlalu jauh. Kalau
misalnya sekarang ini di Pertalite 10 ribu, naik-naik 12 ribu itu masih boleh.
Tapi kalau sudah sampai di atas 15 ribu, ya sudah terlalu juga itu,"
ungkapnya.
Ia mengecualikan daerah-daerah terpencil yang menurutnya
wajar memiliki harga jual lebih tinggi mengingat kendala akses transportasi.
Musliman turut menyinggung fenomena serupa yang terjadi pada komoditas gas
elpiji, di mana harga di tingkat pengecer bisa melonjak signifikan akibat rantai
distribusi yang panjang, mulai dari pengecer, agen, hingga distributor.
"Harganya saja hanya tiba-tiba 10 ribu, sekarang sudah
sampai 30 ribu. Ini permainan ada di tingkat pengecer, agen, sampai
distributor. Di situ permainannya," ujarnya.
Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan kebebasan
berusaha di tengah sistem ekonomi saat ini perlu tetap dibatasi kewajaran, agar
tidak merugikan masyarakat secara berlebihan.
"Karena kita memang dari demokrasi, ya ada kebebasan
seperti itu. Tapi kebablasan juga janganlah," pungkasnya. (ZAR)
.png)

