Listrik di Sulteng Defisit Total 160 MW
![]() |
| ILUSTRASI |
Hal itu terungkap dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi
III DPRD Sulteng bersama jajaran PLN UP3 Palu di Gedung DPRD Sulteng, Jalan Sam
Ratulangi, Kota Palu, Selasa (15/9/2026).
KELISTRIKAN - RDP komisi III DPRD Sulteng bersama PLN terkait pemadaman bergilir. Foto Zahra
Manajer PLN UP3 Palu, Ansar, menjelaskan defisit daya
tersebut dipengaruhi menurunnya kemampuan pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Penurunan debit air di wilayah tangkapan air menyebabkan produksi pembangkit
berkurang sehingga pasokan listrik tidak mampu memenuhi kebutuhan pada saat
beban puncak.
Untuk penyebab utamanya berasal dari penurunan kemampuan
pembangkit air (PLTA) terkait krisis air atau El Nino sehingga pasokan menurun.
Manajer PLN UP3 Palu, Ansa juga mengungkapkan alasan dibalik
pemadam listril bergilir yakni penyebab utamanya berasal dari penurunan
kemampuan pembangkit air (PLTA) terkait krisis air / El Nino sehingga pasokan
menurun.
Dalam RDP tersebut diketahui bahwa kondisi kelistrikan di
Sulteng mengalami defisit regional sebesar 30 MW pada saat beban puncak sistem
mencapai kurang lebih 270 MW, di mana kapasitas PLTA Sulewana yang tersedia saat
ini hanya tersisa sekitar 90 MW sehingga pasokan dari beberapa PLTU dan PLTD
terpaksa disuntikkan demi menutupi kekurangan daya tersebut. Diketahui dalam
RDP kondisi kelistrikan tidak hanya di Sulteng tapi juga di wilayah Sulbagsel
juga mengalami defisit 130 MW yang memperngaruhi kondisi kelistrian di Sulteng.
Lebih lanjut, Ansar memaparkan data per 15 September 2026
mengenai total permintaan pengurangan beban gabungan untuk wilayah Sulbagsel
dan Sulteng yang dipantau per interval 30 menit. Kebutuhan pengurangan beban
mulai muncul sejak pukul 08.00 WITA dan terus merangkak naik secara bertahap
seiring meningkatnya aktivitas masyarakat.
Kekurangan daya mencapai puncaknya pada pukul 15.00 hingga
17.00 WITA dengan total defisit mencapai ±160 MW—yang merupakan akumulasi dari
defisit Sulbagsel sebesar 130 MW dan Sulteng sebesar 30 MW. Kondisi kelistrikan
baru berangsur menurun secara bertahap hingga akhirnya kembali normal (0 MW)
pada pukul 22.00 WITA.
Ansar mengatakan, PLN menyiapkan sejumlah langkah untuk mengatasi
kondisi tersebut. Dalam jangka pendek, PLN akan mengoptimalkan pembangkit
diesel sewa yang telah tersedia, mempercepat pemeliharaan unit pembangkit serta
interkoneksi, dan menambah kapasitas melalui sewa pembangkit.
"Salah satu solusi jangka pendeknya adalah menyewa
pembangkit baru. Perencanaannya sendiri sudah berjalan dan kami lakukan
percepatan," ujarnya.
Selain itu, PLN juga melakukan rekayasa cuaca di wilayah
tangkapan air. Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan debit air yang
menjadi sumber pembangkit listrik tenaga air.
"Untuk mengatasi defisit ini, dalam tiga minggu
terakhir kami juga sudah melakukan rekayasa cuaca dengan harapan bisa
meningkatkan debit air di sistem besar kelistrikan Sulteng," jelas Ansar.
Sementara untuk jangka menengah dan panjang, PLN menyiapkan
pengembangan pembangkit energi baru terbarukan (EBT), termasuk Pembangkit
Listrik Tenaga Surya (PLTS). PLN juga akan berkolaborasi dengan sejumlah anak
perusahaan, di antaranya Nusantara Power dan Nusadaya.
DPRD Minta Solusi
Ketua Komisi III DPRD Sulteng, Dandy Adhiprabowo Nayoan,
mengatakan pemadaman bergilir yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir telah
mengganggu aktivitas masyarakat.
Menurut Dandy, keluhan masyarakat terkait pemadaman juga
banyak disampaikan melalui media sosial. Selain aktivitas rumah tangga, kondisi
tersebut dinilai berdampak terhadap fasilitas publik dan kegiatan ekonomi.
"Jujur saja, kami sering melihat keluhan di media
sosial terkait pemadaman listrik ini yang terkadang jadwalnya tidak menentu.
Masalah ini tidak hanya berefek pada kehidupan sehari-hari, tetapi juga
berdampak pada fasilitas publik, kehidupan sosial, serta perputaran ekonomi
masyarakat," kata Dandy.
Karena itu, Komisi III meminta tenaga ahli DPRD Sulteng
merumuskan rekomendasi resmi sebagai tindak lanjut hasil RDP. Salah satu
rekomendasi yang dibahas adalah pemenuhan kebutuhan sewa mesin diesel sebagai
solusi jangka pendek untuk mengurangi defisit daya.
Untuk jangka panjang, DPRD mendorong pengembangan energi
baru terbarukan, termasuk PLTS, sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem
kelistrikan di Sulteng.
Dandy mengatakan penanganan persoalan kelistrikan juga
berkaitan dengan pelaksanaan visi dan misi Pemerintah Provinsi Sulteng melalui
program Sembilan Berani, khususnya program Berani Menyala.
"Sebagai bentuk tanggung jawab terhadap visi-misi
Gubernur Sulawesi Tengah dalam program Sembilan Berani, khususnya Berani
Menyala, pemerintah provinsi harus mengambil peran besar untuk mendorong dan
memperjuangkan program-program ini, baik untuk solusi jangka pendek maupun
jangka panjang," pungkasnya. (ZAR)
.png)


