Karhutla Meluas di Poso, Lintas Sektor Dikerahkan

Daftar Isi

MELUAS - Petugas melakukan penanganan dan pemadaman kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kabupaten Poso. Foto Kominfo Poso

POSO, Radar Sulteng – Musim kemarau panjang yang melanda Kabupaten Poso sejak Juli hingga September 2026 memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di puluhan titik yang tersebar di sejumlah kecamatan.

Penanganan karhutla dilakukan secara bersama oleh Pemerintah Kabupaten Poso melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar), TNI-Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), pemerintah kecamatan dan desa, tokoh masyarakat, tokoh agama hingga pihak swasta.

Salah satu lokasi yang mendapat penanganan intensif berada di Desa Pasir Putih, Kecamatan Pamona Selatan. Kebakaran lahan gambut yang meluas sejak Sabtu (12/9) bahkan mendekati permukiman dan rumah makan di jalur Trans Sulawesi serta sempat menyebabkan kemacetan panjang.

Sebelumnya, kebakaran juga terjadi di antara Pendolo dan Boe pada 27 Agustus dengan luas sekitar setengah hektare.

Di wilayah Poso Kota Utara, kebakaran tercatat terjadi di belakang permukiman warga Kelurahan Lawanga. Sementara di Pamona Tenggara, kebakaran melanda lahan rawa Tabasenga, Desa Korobono, dengan luas sekitar dua hektare.

Kedua lokasi tersebut dapat ditangani dengan cepat melalui keterlibatan masyarakat bersama Damkar dan unsur Tripika.

Poso Pesisir menjadi salah satu wilayah dengan titik kebakaran terbanyak. Kebakaran antara lain terjadi di Desa Toini, Kelurahan Mapane, Desa Lanto Jaya, Kelurahan Kasiguncu, Desa Lape, Desa Towu dan Desa Betania.

Sementara di Poso Pesisir Selatan, pemerintah kecamatan bersama Babinsa dan masyarakat secara aktif turun ke lokasi setiap kali terjadi kebakaran.

Penanganan karhutla juga dilakukan di kawasan Lore Utara, Lore Tengah, Lore Selatan dan Lore Barat. Posko kebakaran hutan dibentuk di Desa Sedoa berdasarkan hasil koordinasi dengan Balai Taman Nasional Lore Lindu (BTNLL), Polsek, Koramil, MPA, tokoh masyarakat dan tokoh agama. Sedangkan posko induk berada di Desa Wuasa.

Di Desa Sedoa, kebakaran lahan di pinggir kawasan hutan TNLL pada 4 September berhasil dikendalikan. Pemadaman melibatkan puluhan warga dengan menggunakan alat semprot pertanian.

Di Lore Selatan, kebakaran tercatat di Desa Bakaekau sekitar enam hektare, antara Desa Bulili-Bewa sekitar tiga hektare, serta kawasan hutan pinus ruas Tonusu-Bomba dekat Gintu sekitar 10 hektare.

Pemadaman dilakukan secara manual dengan melibatkan TNI-Polri, pegawai kecamatan dan masyarakat. Pemerintah kecamatan juga terus menyosialisasikan Maklumat Kapolda Sulawesi Tengah mengenai larangan pembakaran hutan dan lahan kepada pemerintah desa serta tokoh adat.

Sementara itu, di Pamona Barat, kebakaran lahan kosong di Desa Meko pada 29 Agustus dengan luas sekitar 15 hektare ditangani masyarakat bersama kepolisian dan unsur Tripika.

Di Pamona Timur, kebakaran terjadi di sejumlah lokasi, termasuk kawasan Desa Matialemba dan Desa Petiro serta lahan yang merembet ke perkebunan sawit PT SJA 2. Salah satu kejadian pada 10 September diperkirakan mencapai sekitar 10 hektare.

Penanganan dilakukan bersama oleh TNI, Polri, MPA, Manggala Agni, pemerintah desa, masyarakat dan tim PT SJA 2.

Kebakaran juga dilaporkan di sejumlah wilayah lain, seperti Desa Bakti Agung, Lanto Jaya, Tampemadoro, Peura, Pandiri dan Rato'ombu. Sementara Kecamatan Poso Kota dan Poso Kota Selatan hingga saat ini dilaporkan dalam kondisi aman dan terkendali berkat langkah antisipasi dini.

Menghadapi kondisi tersebut, Pemkab Poso melalui jajaran kecamatan telah melakukan berbagai langkah pencegahan. Di antaranya penyebaran surat imbauan kewaspadaan karhutla ke desa-desa, yang juga dibacakan melalui pengeras suara rumah ibadah.

Selain itu, pemerintah membentuk forum komunikasi cepat penanggulangan karhutla, menyebarkan video imbauan melalui media sosial serta mendirikan posko kebakaran hutan di wilayah Lore Lindu.

Pemkab bersama TNI-Polri juga menyiapkan pembentukan tim khusus penanganan karhutla yang melibatkan unsur TNI, Polri, ASN dan masyarakat.

Untuk memperkuat penanganan di lapangan, Pemkab Poso menyediakan 100 unit hand sprayer elektrik yang dibagikan ke sejumlah kecamatan terdampak.

Bantuan peralatan tersebut diharapkan memperkuat kapasitas penanganan di tingkat kecamatan dan desa, terutama untuk pemadaman awal serta mencegah api meluas.

Dalam upaya pemadaman di lokasi kebakaran lahan gambut Pendolo, salah seorang personel Damkar sempat merasakan dampak asap tebal saat menjalankan tugas di lapangan.

Meski menghadapi risiko yang tidak ringan, petugas tetap melanjutkan pemadaman dan pendinginan untuk mencegah api meluas ke arah permukiman warga yang semakin dekat dengan kobaran api.

Banyaknya titik kebakaran yang muncul hampir bersamaan membuat personel dan unit pemadam harus dibagi untuk menjangkau berbagai lokasi. Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah titik membutuhkan tambahan sumber daya, personel dan peralatan dari luar daerah.

Dukungan penanganan pun datang dari luar daerah. Pemerintah Kabupaten Luwu Timur mengirimkan armada Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan serta ambulans untuk membantu penanganan karhutla di Poso.

Bantuan tersebut menjadi bentuk kepedulian dan solidaritas antar daerah dalam menghadapi kondisi karhutla yang masih berlangsung.

Pemerintah Kabupaten Poso bersama BPBD, TNI-Polri, Damkar, MPA, Manggala Agni, pemerintah kecamatan dan desa, tokoh masyarakat, tokoh agama serta seluruh pihak terkait terus memperkuat koordinasi dalam pemadaman dan pencegahan karhutla.

Sinergi lintas sektor tersebut menjadi bagian penting dalam melindungi permukiman, lingkungan dan keselamatan masyarakat di tengah kondisi kemarau panjang yang masih berlangsung.(*)