Geruduk Ruang Rapat Komisi, Mahasiswa Minta Tindaklanjuti Tuntutan
TUNTUT - Audiensi antara Aliansi Mahasiswa Kota Palu bersama DPRD. Senin, (21/9/2026). Foto : Zahra
PALU, Radar Sulteng - Aksi unjuk rasa mahasiswa di Gedung DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Jalan Sam Ratulangi, pada Senin (21/09/2026), berujung pada penghentian sementara (skorsing) rapat Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) yang tengah berlangsung, setelah massa aksi berhasil masuk hingga ke ruang rapat komisi.
Aliansi mahasiswa yang terdiri dari perwakilan
Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Universitas Tadulako (Untad),
dan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu ini awalnya ditemui oleh Wakil
Ketua I DPRD Sulteng, Ketua Komisi IV Hidayat Pakamundi, serta Ketua Fraksi
PKS. Namun, mahasiswa sempat menolak audiensi tersebut karena bersikeras ingin
bertemu langsung dengan Ketua DPRD Sulteng.
Ketua Bapemperda, Sri Indraningsih Lalusu, yang
memimpin rapat turut melayani audiensi tersebut. Ia menegaskan kepada mahasiswa
bahwa Ketua DPRD Sulteng saat ini tidak sedang berada di Kota Palu, sehingga
permintaan bertemu langsung tidak dapat dipenuhi pada kesempatan tersebut.
Dalam audiensi tersebut, mahasiswa dari UIN
Datokarama dan Untad menagih janji kepada Sekretaris Komisi III DPRD Sulteng,
Wiwik Jumatul Rofiah, terkait sejumlah isu dan tuntutan yang sebelumnya telah
disampaikan dalam aksi beberapa waktu lalu.
Wakil Ketua BEM Untad, Ramlah, mengatakan
kedatangan mahasiswa kali ini bertujuan menagih kepastian sejauh mana
tuntutan-tuntutan tersebut telah ditindaklanjuti.
Menanggapi hal itu, Wiwik menyatakan seluruh
tuntutan mahasiswa telah disampaikan kepada Ketua DPRD dan telah dibahas dalam
rapat bersama pimpinan DPRD serta pimpinan fraksi.
"Kita sudah rapat pimpinan, pimpinan DPRD
dan pimpinan fraksi, yang dibahas salah satunya adalah demo mahasiswa, saya
sudah sampaikan di forum pimpinan," ujar Wiwik saat audiensi.
Mahasiswa yang hadir menyatakan hanya ingin
mengetahui hasil dari pertemuan pimpinan tersebut, sekaligus meminta agar
seluruh tuntutan mereka segera ditindaklanjuti oleh anggota DPRD.
Salah satu isu yang turut disuarakan dalam
aksi kali ini mengenai persoalan keterlambatan distribusi Bahan Bakar Minyak
(BBM) akibat musim kemarau panjang. Ketua BEM Untad mengaku sebelumnya telah
melakukan audiensi dengan pihak Pertamina Niaga terkait persoalan tersebut.
Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa meminta DPRD menindaklanjuti dengan
memanggil pihak Pertamina, sekaligus berkomitmen melakukan pengawasan dan
evaluasi guna memastikan apakah kelangkaan BBM murni disebabkan keterlambatan
distribusi dan kemarau panjang, atau justru akibat permainan oknum tertentu.
Setelah mendengarkan seluruh tuntutan
mahasiswa, Sri menjelaskan bahwa DPRD Sulteng telah memperjuangkan sejumlah
tuntutan yang merupakan kewenangan pemerintah pusat, salah satunya terkait Dana
Bagi Hasil (DBH) daerah yang hingga kini belum sepenuhnya disalurkan pemerintah
pusat.
"Kami ini anggota DPR meminta hak kami di
daerah saja, dana salur kami yang di pusat sudah tiga tahun tidak dibayar, kami
pergi ke sana menghadap menteri, menghadap dirjen, menghadap DPR RI tebal muka,
bahkan dana bagi hasil kami yang telah kami catat rancangannya untuk rakyat,
pupus harapan sampai saat ini pusat tidak pernah memberikannya sama kami di
Sulteng. Saya Pak Ketua yang baru saja dirawat dari rumah sakit kami paksa ke
Jakarta dengan Pak Gubernur ke sana, saya sudah bertanya-tanya apa salahnya
Sulteng," ungkapnya dalam audiensi tersebut.
Sri menegaskan, seluruh tuntutan massa aksi
yang menjadi kewenangan pemerintah pusat telah disampaikan dan diperjuangkan
Pemerintah Provinsi Sulteng ke pemerintah pusat.
Sebagai tindak lanjut dari audiensi tersebut,
disepakati akan digelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang akan mempertemukan aliansi mahasiswa
Kota Palu dengan seluruh ketua fraksi DPRD Provinsi Sulteng beserta jajaran
pimpinan DPRD yang nantinya akan turut menghadirkan pihak Pertamina dan PLN.
(ZAR)
.png)

