Dinas Pariwisata Wacanakan Buat Festival Tionghoa

Daftar Isi

Mohammad Ridwan Karim

PALU, Radar Sulteng – Dinas Pariwisata Kota Palu mulai membuka gagasan menghadirkan festival budaya Tionghoa sebagai bagian dari upaya memperkaya daya tarik wisata dan ruang budaya di Kota Palu.

Gagasan tersebut disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Kota Palu, Mohammad Ridwan Karim. Ia berencana membangun komunikasi dengan komunitas Tionghoa untuk melihat kemungkinan menghadirkan festival yang memadukan atraksi budaya, kuliner dan UMKM.

“Saya coba melobi teman-teman etnis Tionghoa untuk membuat festival. Apakah festival lampion atau bentuk kegiatan budaya lainnya. Yang penting, kita bisa mengangkat budaya mereka menjadi bagian dari wisata Kota Palu,” kata Ridwan kepada Radar Sulteng, Rabu (16/09/2026).

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menampilkan budaya Tionghoa, tetapi juga dapat menjadi ruang pertemuan berbagai unsur masyarakat. Konsepnya akan diarahkan agar tetap dekat dengan karakter Kota Palu, termasuk melalui sajian kuliner yang dapat diterima masyarakat luas.

“Nanti di dalamnya ada atraksi, ada kuliner dan mungkin UMKM kita tampilkan. Jadi bukan hanya melihat pertunjukannya, tetapi masyarakat juga bisa menikmati makanan dan produk yang ada,” ujarnya.

Ridwan mengatakan rencana itu masih akan dibicarakan lebih lanjut dengan komunitas Tionghoa. Ia bahkan mempertimbangkan kawasan Jalan Gajah Mada sebagai salah satu lokasi yang dapat digunakan apabila konsep tersebut mendapat dukungan dan persetujuan.

“Tujuannya untuk wisata Kota Palu. Kita ingin menunjukkan bahwa etnis Tionghoa juga menjadi bagian dari perkembangan Kota Palu,” jelasnya.

Potensi tersebut memiliki latar budaya yang cukup panjang di Kota Palu. Jejak masyarakat Tionghoa tercatat di kawasan Jalan Gajah Mada. Bekas sekolah Tionghoa atau Chung Hwa Xue Xiao di Lorong Bhakti misalnya, disebut berdiri sejak 1921 dan kemudian ditutup pada 1965. Sekolah tersebut tidak hanya menerima pelajar Tionghoa, tetapi juga masyarakat lokal dan pendatang lainnya.

Aktivitas budaya komunitas Tionghoa juga masih terlihat dalam sejumlah kegiatan. Pada Maret 2026, Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Sulawesi Tengah menggelar Harmoni Imlek Nusantara Cap Go Meh Festival yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama. Kegiatan itu melibatkan sejumlah unsur lintas agama dan organisasi masyarakat di Palu.

Ridwan berharap potensi budaya tersebut dapat dikembangkan menjadi kegiatan yang tidak hanya bersifat seremonial. Menurutnya, perpaduan atraksi, kuliner dan UMKM bisa menjadi paket yang menarik bagi masyarakat sekaligus memperkuat wisata perkotaan.

“Kita ingin semua potensi yang ada di Kota Palu bisa bergerak. Budaya, kuliner, UMKM dan atraksi masyarakat bisa menjadi satu rangkaian yang menarik untuk wisata,” tutupnya. (AKA)