Coach Brilin: Merebut Prestasi Gampang, Mempertahankan Sangat Berat

Daftar Isi

KEIKLHLASAN - Andi Sultan Brilin saat memberika  teori dan praktik olharag petanque kepada mahasiswa PJKR Untad di lapangan petanque taman GOR Palu, Selasa (1/9/2026). Foto Barnabas Loinang

PALU, Radar Sulteng – Prestasi atlet petanque Sulawesi Tengah pada PON XXI Aceh-Sumut 2024 menjadi catatan sejarah tersendiri. Untuk pertama kalinya, cabang olahraga (cabor) petanque dipertandingkan secara resmi di ajang PON dan atlet Sulteng berhasil meraih medali emas.

Di balik prestasi tersebut terdapat peran Dr. Andi Sultan Brilin, S.Pd., M.Pd., AIFO-P yang menjadi salah satu pelatih petanque Sulteng. Brilin mengantarkan Heriyanto, Priscilia dan Firmansyah serta Ikhlas (Cadangan) meraih prestasi di ajang nasional tersebut.

Kesuksesan itu sekaligus mencatatkan nama para atlet tersebut dalam sejarah olahraga Sulteng sebagai atlet petanque pertama yang meraih medali emas pada PON.

Brilin mengatakan, mempertahankan prestasi jauh lebih sulit dibandingkan saat merebutnya. Karena itu, diperlukan komitmen yang kuat dan berkelanjutan dari semua pihak.

“Merebut itu gampang, tapi mempertahankan sangat berat jika tidak ada komitmen tanpa batas,” kata Brilin.

Menurutnya, keberlanjutan prestasi tidak hanya bergantung pada atlet dan pelatih. Dukungan pemerintah, khususnya dalam penyediaan sarana dan prasarana serta anggaran, sangat dibutuhkan untuk menunjang pembinaan.

“Untuk prestasi perlu dukungan dari pemerintah, sarana dan prasarana serta dana,” ujarnya.

Selain dukungan pemerintah, Brilin menilai pelatih memiliki peran penting dalam menjaga semangat atlet muda. Pelatih harus menjadi motor penggerak yang mampu membakar semangat atlet untuk terus berlatih.

Pelatih juga dituntut membentuk karakter atlet, terutama dalam hal solidaritas dan mental. Menurut Brilin, kemampuan menghadapi dan melawan keterbatasan menjadi bagian penting dalam proses pembinaan.

Semangat tersebut terus diterapkan Brilin dalam membina mahasiswa Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi (PJKR). Mahasiswa dikenalkan dengan olahraga petanque yang menggunakan bola besi sekaligus diarahkan untuk memahami teknik dan karakter olahraga tersebut.

Namun, proses pembinaan masih menghadapi persoalan fasilitas. Lapangan petanque yang pernah menjadi tempat lahirnya atlet peraih emas PON tersebut kini berada dalam kondisi yang memprihatinkan dan kurang terawat.

Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri bagi pembinaan atlet petanque di Sulteng. Padahal, fasilitas latihan yang memadai menjadi salah satu faktor penting untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan prestasi.

“Di lapangan ini medali emas awal mula,” ujarnya, Selasa (1/8/2026).

Brilin berharap dukungan terhadap pembinaan petanque terus diperkuat sehingga prestasi yang telah ditorehkan pada PON 2024 tidak berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi dapat kembali dipertahankan dan ditingkatkan pada ajang-ajang berikutnya.

“Dalam waktu dekat ini akan mengikuti kejurnas untuk try out dalam memetakan tim kita persiapan kualifikasi PON,” ujar Brilin. (bar)