Anwar Hafid Minta Pertamina Turun Langsung
![]() |
| Anwar Hafid |
PALU, Radar Sulteng – Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid bergerak cepat menyikapi persoalan pelayanan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, khususnya jenis solar, yang dikeluhkan pelaku angkutan kontainer akibat kendala penggunaan Barcode/QR Code saat pengisian di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Anwar Hafid mendorong agar persoalan tersebut segera
mendapatkan solusi konkret sehingga tidak menghambat aktivitas transportasi dan
distribusi barang di wilayah Sulawesi Tengah.
Langkah itu diwujudkan melalui rapat koordinasi bersama
sejumlah instansi dan pihak terkait, di antaranya PT Pertamina, Hiswana Migas
Sulawesi Tengah, Direktorat Lalu Lintas Polda Sulawesi Tengah serta perangkat
daerah lingkup Pemprov Sulteng.
Rapat yang berlangsung di ruang rapat Asisten Perekonomian
dan Pembangunan, Senin (14/9/2026), merupakan tindak lanjut atas aksi
demonstrasi Serikat Buruh Transportasi Container (SBTC) Sulawesi Tengah.
Pertemuan tersebut juga menjadi bagian dari langkah antisipasi terhadap potensi
antrean panjang BBM seperti yang terjadi di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan.
Anwar Hafid menegaskan, persoalan pelayanan BBM tidak boleh
dibiarkan berlarut karena dapat berdampak langsung terhadap kelancaran
transportasi dan distribusi barang.
“Kita ingin memastikan pelayanan BBM, khususnya BBM
bersubsidi, berjalan lancar dan tidak menjadi hambatan bagi masyarakat maupun
pelaku usaha transportasi. Ini juga bagian dari upaya kita menjalankan Program
BERANI LANCAR di sektor transportasi,” ujar Anwar.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian dalam rapat
adalah kendala teknis ketika Barcode/QR Code milik truk kontainer tidak dapat
dipindai saat kendaraan sudah berada di depan nozzle.
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan persoalan baru.
Sebab, kendaraan telah mengantre cukup lama, tetapi transaksi pengisian BBM
tidak dapat dilakukan karena QR Code mengalami kendala.
Menindaklanjuti persoalan tersebut, Pertamina dan Hiswana
Migas Sulawesi Tengah sepakat memberikan kemudahan pelayanan bagi truk
kontainer, terutama dalam pembelian BBM bersubsidi yang menggunakan Barcode/QR
Code.
Pertamina dan Hiswana Migas juga akan menugaskan pegawai
khusus untuk mendampingi penggunaan Barcode/QR Code di SPBU. Petugas tersebut
disiapkan secara mobile untuk melakukan pengecekan terhadap truk kontainer yang
sedang mengantre.
Dengan pola tersebut, pemeriksaan QR Code dapat dilakukan
lebih awal. Sehingga, jika ditemukan kendala, persoalan dapat diketahui sebelum
kendaraan mencapai nozzle.
“Jangan sampai truk sudah mengantre lama, kemudian ketika
sampai di depan nozzle baru diketahui QR Code-nya bermasalah atau tidak bisa
dipindai. Ini yang harus kita cegah,” tegas Anwar.
Selain itu, Pemprov Sulteng akan menyiapkan surat kepada
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) untuk memohon diskresi
atau kebijakan tertentu bagi pengelola SPBU dalam menghadapi kendala teknis
penggunaan Barcode/QR Code yang berada di luar kendali masyarakat.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat memastikan masyarakat
yang benar-benar membutuhkan BBM bersubsidi, termasuk truk kontainer yang
menjalankan aktivitas distribusi, tetap mendapatkan pelayanan ketika terjadi
kendala teknis pada sistem.
Menurut Anwar, penerapan sistem digital harus tetap berjalan,
namun tidak boleh mengabaikan kondisi riil yang dihadapi masyarakat di
lapangan.
Dalam rapat tersebut juga dibahas laporan mengenai dugaan
adanya sekelompok pihak yang menguasai wilayah SPBU di Kabupaten Poso,
Morowali, dan Morowali Utara.
Pemprov Sulteng akan membawa laporan tersebut ke forum yang
lebih tinggi, termasuk melalui rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah
(Forkopimda), untuk mendapatkan penanganan dan langkah yang tepat.
“Kalau memang ada indikasi seperti itu, tentu harus kita
lihat secara serius. Jangan sampai pelayanan BBM yang seharusnya menjadi hak
masyarakat justru terganggu oleh pihak-pihak tertentu,” kata Anwar.
Di sisi lain, Pertamina dan Hiswana Migas diminta terus
melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar membeli BBM sesuai kebutuhan dan
tidak melakukan panic buying atau pembelian secara berlebihan.
Pemerintah menilai pembelian BBM secara berlebihan justru
dapat memperburuk situasi dan memicu antrean panjang di SPBU.
Pertamina dan Hiswana Migas juga diminta terus berkoordinasi
dengan pemerintah daerah terkait distribusi dan pelayanan penjualan BBM,
khususnya BBM bersubsidi.
Anwar berharap langkah koordinasi tersebut dapat menjaga
kelancaran distribusi BBM sekaligus memastikan aktivitas transportasi dan
perekonomian masyarakat di Sulawesi Tengah tetap berjalan.
“Kita ingin persoalan ini diselesaikan dengan koordinasi,
pelayanan yang lebih baik, dan solusi yang tidak merugikan masyarakat. Yang
paling penting, distribusi BBM lancar, transportasi lancar, dan aktivitas
ekonomi masyarakat juga tetap berjalan,” pungkasnya.
.png)

