Uji Lab Unhas Temukan Kandungan Tinggi Nikel di Sawah Warga Mayayap
![]() |
| ILUSTRASI |
Kajian tersebut disusun berdasarkan hasil
pengujian terhadap sampel tanah, sedimen bendungan, air irigasi, serta jaringan
tanaman padi milik warga. Analisis dilakukan untuk menjawab pertanyaan
masyarakat mengenai keterkaitan aktivitas pertambangan nikel di sekitar wilayah
tersebut dengan anjloknya hasil panen sawah dalam beberapa tahun terakhir.
Sebagaimana laporan hasil uji lab Unhas dari
kuasan hukum Dr Hasrin Rahim, disebutkan hasil uji laboratorium menemukan
kandungan logam Nikel (Ni) dan Kobalt (Co) pada tanah sawah maupun sedimen
bendungan berada pada tingkat yang sangat tinggi, jauh melampaui kisaran yang
lazim ditemukan pada tanah pertanian yang tidak terpapar aktivitas
pertambangan.
Selain itu, pola penyebaran logam menunjukkan
konsentrasi tertinggi berada di lokasi yang paling dekat dengan aliran air dan
bendungan, kemudian menurun pada titik yang semakin jauh. Menurut kajian
tersebut, pola seperti ini secara ilmiah lebih konsisten dengan pencemaran yang
berasal dari luar lahan melalui sedimentasi air irigasi dibandingkan kondisi
geologi alami.
Kajian juga menemukan bahwa kandungan Timbal
(Pb) dan Kadmium (Cd) relatif rendah, sementara Nikel dan Kobalt mendominasi
seluruh sampel. Pola tersebut disebut sebagai "sidik jari" geokimia
yang identik dengan karakteristik bijih nikel laterit maupun material sisa
pengolahannya, sehingga mengarah pada dugaan aktivitas pertambangan sebagai
sumber pencemaran yang paling konsisten dengan data yang diperoleh.
Tidak hanya pada tanah dan sedimen, logam Nikel dan Kobalt juga terdeteksi pada jaringan tanaman padi, baik pada bulir gabah maupun beras. Temuan ini menunjukkan adanya jalur penyerapan logam dari tanah menuju tanaman yang secara ilmiah dapat memengaruhi pertumbuhan dan hasil panen.
Data laboratorium turut mencatat kandungan Nikel pada tanah di sekitar bendungan mencapai 1.233,79 mg/kg dan pada lahan sawah dekat aliran air sebesar 1.166,61 mg/kg. Angka tersebut kemudian turun menjadi sekitar 61,35 mg/kg pada sampel tanah bagian dalam, memperlihatkan pola penurunan yang dinilai mengindikasikan adanya deposisi kontaminan dari sumber eksternal melalui aliran air.
Dalam bagian kesimpulan, kajian menyatakan bahwa data hasil uji laboratorium
tanah, sedimen, air dan jaringan padi menunjukkan pola yang secara ilmiah
konsisten dengan dugaan adanya keterkaitan antara aktivitas pertambangan nikel
dengan penurunan produktivitas sawah. Pencemaran diduga terjadi melalui logam
Nikel dan Kobalt yang terbawa sedimen air irigasi dan terakumulasi di lapisan
tanah sawah.
Kajian tersebut juga mengingatkan adanya
potensi risiko kesehatan bagi masyarakat akibat konsumsi beras yang berasal
dari lahan terdampak. Namun, aspek tersebut belum dibahas secara rinci dan
memerlukan penelitian lanjutan.
Sebelumnya, masyarakat Desa Mayayap melaporkan
produktivitas sawah mereka turun drastis sejak aktivitas pertambangan
berlangsung. Jika pada 2019 hasil panen mencapai sekitar 6–7 ton per hektare,
dalam kurun 2024–2025 hasilnya tinggal sekitar 16 karung gabah per hektare.
Kondisi tersebut menjadi dasar dilakukannya pengujian laboratorium untuk
mengetahui kemungkinan hubungan antara aktivitas pertambangan dan penurunan
hasil panen. (bar)
.png)

