Revitalisasi Sekolah Hingga Biaya Prakerin Masuk Prioritas Anggaran 2027
![]() |
| Hidayat Pakamundi |
PALU, Radar Sulteng - Komisi IV DPRD Provinsi Sulawesi Tengah menggelar rapat pembahasan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA PPAS) bersama seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) mitra kerja, di Kantor DPRD Sulteng, jalan Moh Yamin. Rabu (05/08/2026).
Ketua Komisi IV DPRD Sulteng, Hidayat Pakamundi, menjelaskan
pembahasan ini merupakan kelanjutan dari rapat Badan Anggaran sebelumnya yang
membahas KUA PPAS Tahun Anggaran 2027, sekaligus secara paralel membahas KUA
PPAS Perubahan Tahun Anggaran 2026. Ia menyebut pembahasan di Komisi IV hari
ini mencakup sejumlah mitra kerja, di antaranya Dinas Sosial, Dinas Pendidikan,
dan Biro Kesejahteraan Rakyat (Birokesra).
Komisi empat terkait yang sudah proses pembahasan sampai pada siang hari ini, yaitu terkait dengan kegiatan sosial, proyeksi anggaran ke depan di 2027, kemudian tahun berjalan, kemudian Dinas Pendidikan, terus kemudian ada Birokesra," ujarnya.
Hidayat menyebut, pembahasan dengan Dinas Pendidikan
berlangsung cukup panjang mengingat proyeksi anggaran 2027 masih berfokus pada
peningkatan mutu dan kualitas pendidikan, termasuk kompetensi ribuan guru SMA,
SMK, dan SLB yang menjadi kewenangan provinsi, serta perbaikan sarana dan
prasarana infrastruktur sekolah.
Kalau kita bicara tentang kualitas pendidikan ini panjang, terkait dengan kompetensi guru-guru yang luar biasa jumlahnya sekitar belasan ribu yang ada di wilayah Sulawesi Tengah khusus SMA, SMK, SLB yang menjadi kewenangan kita," jelasnya.
Ia turut menjelaskan program Beasiswa Berani Cerdas dari
Pemerintah Provinsi Sulteng, yang menurutnya tidak hanya mencakup pembayaran
biaya kuliah atau Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa asal Sulteng, tetapi
juga meliputi pemberian seragam sekolah, penggratisan biaya praktik kerja
industri (prakerin), hingga Bantuan Operasional Sekolah Daerah (Bosda), dengan
total tujuh item bantuan.
Terkait temuan di lapangan, Hidayat mengungkapkan sejumlah
persoalan sarana dan prasarana pembelajaran ditemukan di beberapa sekolah,
seperti SMA di Kabupaten Sigi, SMK Sirenja, dan SMK Parigata di Parigi, yang
menurutnya telah ditinjau langsung oleh dinas terkait dan tengah diupayakan
penyelesaiannya. Ia juga menyinggung persoalan di SMK Perikanan Kabupaten Tojo
Una-Una, yang telah ditinjau langsung oleh kepala dinas terkait pengelolaan
sekolah, termasuk masalah guru dan kepala sekolah yang memiliki tugas tambahan
di sekolah lain.
Sekarang sementara dipikirkan kira-kira bagaimana melakukan afirmasi terhadap sekolah tersebut agar bisa berjalan, karena memang di sana selain daratannya, kemudian ada lautnya yang jadi penekanannya kepada SMK Kejuruan Perikanan itu," jelasnya.
Mengenai target revitalisasi sekolah pada tahun anggaran
mendatang, Hidayat mengungkapkan jumlahnya akan bergantung pada besaran
anggaran yang tersedia, dengan harapan semakin banyak sekolah SMA dan SMK yang
dapat direvitalisasi, mencakup bangunan, bangku, hingga papan tulis, demi kenyamanan
proses belajar mengajar.
Terkait klasifikasi kerusakan bangunan sekolah, Hidayat
menjelaskan data secara rinci, baik kategori ringan, sedang, maupun berat
berada di masing-masing dinas teknis yang telah melakukan supervisi dan
monitoring langsung ke lapangan. Ia juga mengungkapkan salah satu kendala utama
yang menghambat proses revitalisasi sejumlah sekolah adalah persoalan
sertifikat hak atas tanah sekolah yang saat ini masih dalam proses perbaikan
dan legalisasi.
Yang jelas yang menjadi kendala ini, kenapa tidak tersentuh oleh program revitalisasi, terkait dengan sertifikat hak atas sekolah itu, itu sementara lagi diperbaiki terus, kemudian dilegalitaskan," tambahnya. (ZAR)
.png)

