Rapat Senat Untad Ditunggangi Kepentingan Pilrek
![]() |
| ILUSTRASI |
PALU, Radar Sulteng - Rapat Senat Universitas Tadulako (Untad) dengan agenda Pembahasan Peraturan Senat dan Renstra di Gedung Media Center, Senin (24/08/2026), sempat memanas.
Forum tertinggi akademik ini dituding cacat hukum lantaran
tetap dilanjutkan meski dihadiri puluhan anggota yang keanggotaannya dianggap
gugur secara statuta.
Anggota Senat dari FISIP Untad, Prof. Ilyas, secara terbuka
memprotes dan menyatakan rapat tersebut tidak sah. Ia membeberkan kehadiran
lebih dari 20 anggota bermasalah yang secara aturan dilarang menyusun produk
hukum. Rinciannya, 16 anggota merangkap jabatan lain, tiga orang terduga
plagiasi, dan perwakilan dosen yang menjabat melampaui batas dua periode.
"Saya menilai rapat senat ini tidak sah. Di statuta
kita jelas kok bahwa seorang anggota senat berhenti apabila diangkat dalam
jabatan lain," tegas Prof. Ilyas.
Berdasarkan Permendikbudristek Nomor 3 Tahun 2024 tentang
Statuta Untad, keanggotaan senat otomatis gugur jika dosen memegang jabatan
lain seperti Wakil Dekan, Ketua Jurusan, hingga Kepala Laboratorium guna
menghindari konflik kepentingan.
Prof. Ilyas mensinyalir, dipertahankannya anggota bermasalah
ini merupakan siasat politis untuk mengamankan basis suara pada Pemilihan
Rektor (Pilrek) mendatang.
"Pasti ada kepentingan. Kalau mereka digantikan,
berkurang suara pendukung. Enggak mungkin misalnya wakil dekan bertentangan
dengan rektor incumbent," sentilnya tajam.
Menanggapi hujan interupsi dan tudingan miring tersebut,
Ketua Senat Untad, Prof. Djayani Nurdin, tampil memberikan klarifikasi. Ia
membantah spekulasi bahwa pengesahan draf aturan ini ditunggangi oleh
kepentingan Pilrek.
"Oh, tidak bukan (untuk Pilrek), karena ini untuk senat
yang akan datang. Aturannya untuk anggota senat yang akan datang, bukan anggota
senat yang sekarang ini," tepis Prof. Djayani
Ia memastikan rapat tetap membuahkan hasil dengan
disepakatinya tiga poin regulasi mengenai pengangkatan, pemberhentian, dan
pergantian antar waktu (PAW) anggota senat.
Terkait protes keras yang mewarnai ruang sidang, Prof.
Djayani menilainya sebagai dinamika yang wajar dan telah diselesaikan dengan
baik.
"Memang dalam pelaksanaan ada sedikit pertentangan
pendapat, tapi itu bisa kita atasi dengan bagus. Akhirnya teman-teman sesudah
rapat saling berpelukan, saling memaafkan," pungkasnya. (AKA)
.png)

