Pemprov Sulteng Apresiasi Pembuatan Pupuk Organik
PALU, Radar Sulteng – Pemerintah Provinsi
Sulawesi Tengah (Sulteng), melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak),
mengapresiasi pelatihan pembuatan pupuk organik bagi petani sawit Kabupaten
Morowali angkatan 3, 4, dan 5 di salah satu hotel di Palu, Selasa (11/8).
Dandy Alfita
Kegiatan tersebut dilaksanakan Badan Pengelola
Dana Perkebunan (BPDP) bekerja sama dengan Badan Penyuluhan dan Pengembangan
Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDM) Kementerian Pertanian, melalui Balai
Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku.
Sekretaris Disbunak Sulteng, Dandy Alfita
mengatakan, Pemprov Sulteng mengapresiasi pelaksanaan pelatihan pembuatan pupuk
organik yang dilaksanakan BBPP Batangkaluku, yang diikuti sebanyak 99 petani
sawit dari Kabupaten Morowali.
Kami sangat bersyukur karena ada 99 orang peserta petani kebun dari Kabupaten Morowali yang mendapatkan kesempatan pelatihan pembuatan pupuk organik dari BBPP Batangkaluku hingga lima hari ke depan. Insya Allah, beberapa materi yang akan disampaikan para fasilitator dan instruktur dari BBPP Batangkaluku sangat kami apresiasi,” ujarnya.
Kata Dandy, melalui kegiatan tersebut, petani
sawit di Kabupaten Morowali mendapat kesempatan untuk mengaplikasikan pupuk
organik sekaligus mendukung pengembangan program hilirisasi perkebunan tahun
2026.
Kita ketahui bahwa Dinas Perkebunan dan Peternakan Sulteng banyak mendapatkan dukungan kegiatan yang berasal dari pusat, khususnya dari bagian perkebunan untuk komoditas, baik kelapa sawit maupun komoditas kompetitif lainnya. Alhamdulillah, masyarakat Morowali sangat mendukung kegiatan ini karena saat ini fokus kegiatan dan realisasi tersebut berkembang pesat di Kabupaten Morowali,” ujarnya.
Kata dia, upaya mengembangkan potensi
perkebunan, khususnya kelapa sawit, terus dilakukan, bukan hanya di Kabupaten
Morowali, tetapi juga di kabupaten lain yang ada di Sulteng, seperti Kabupaten
Parigi Moutong, Poso, dan Donggala, yang merupakan sentra-sentra subsektor
perkebunan.
Ada beberapa kegiatan yang diperlukan oleh kelompok-kelompok tani, dan itu menjadi fokus perhatian pemerintah dalam pengembangan sektor perkebunan, baik melalui pendanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) provinsi maupun APBD kabupaten,” jelasnya.
Menurut Dandy Alfita, petani yang aktif sudah
mengetahui informasi dan tata cara pemanfaatan limbah organik. Ditambah lagi
dengan adanya pendampingan petugas teknis yang selalu memberikan contoh
bagaimana pembuatan pupuk tersebut.
Tambah dia, pengolahan limbah perkebunan dapat
dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Apalagi saat ini pupuk kimia telah didesain
dan memiliki komponen yang diatur sesuai dengan kebutuhan komoditas, namun
tetap menyesuaikan dengan lingkungan dan kandungan yang ada pada limbah
tersebut.
Kalau pupuk ini kan (organik) bisa diatur komposisinya, dan lebih alami. Sudah tentu lebih menyuburkan tanaman karena memang sudah cocok dengan lingkungan tanah atau perkebunan. Jadi melalui program ini para petani sudah diberikan bekal ilmu pengetahuan. Jadi diharapkan, bukan hanya berhenti pada mereka saja, tetapi harus bisa mengaplikasikan dan memberikan pengetahuan kepada yang lain yang belum sempat mengikuti pelatihan ini,” ujarnya. (lam)
.png)
