Mimpi Sulteng Tuan Rumah FORNAS Buyar
KORMI Nasional Cabut Status Sulteng sebagai Tuan Rumah FORNAS IX 2027
PALU, Radar Sulteng – Komite Olahraga Masyarakat Indonesia
(KORMI) Nasional resmi mencabut penetapan Provinsi Sulawesi Tengah sebagai tuan
rumah Festival Olahraga Masyarakat Nasional (FORNAS) IX Tahun 2027. Keputusan
itu diambil setelah evaluasi menyeluruh terhadap kesiapan penyelenggaraan,
terutama menyangkut kepastian dukungan anggaran, kesiapan sarana dan prasarana,
serta aspek keselamatan dan keamanan.
Pencabutan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Pengurus
KORMI Nasional Nomor 016/SK/KORMINAS/VII/2026 tentang Pencabutan Surat
Keputusan Pengurus KORMI Nasional Nomor 042/SK/KORMINAS/VIII/2025 tentang
Penetapan Provinsi Sulawesi Tengah sebagai Tuan Rumah Festival Olahraga
Masyarakat Nasional (FORNAS) IX Tahun 2027. Surat keputusan itu ditetapkan di Jakarta
pada 25 Juli 2026 dan ditandatangani Ketua Umum KORMI Nasional Adil Hakim
bersama Sekretaris Jenderal Kemalsyah Nasution.
Dalam bagian pertimbangan keputusan disebutkan, KORMI
Sulawesi Tengah telah menyampaikan perkembangan persiapan penyelenggaraan FORNAS
IX melalui tiga surat resmi masing-masing tertanggal 28 April, 15 Juni, dan 20
Juli 2026. Dari laporan tersebut, KORMI Nasional menilai masih terdapat
sejumlah aspek strategis yang belum memperoleh kepastian.
Aspek dimaksud meliputi dukungan anggaran penyelenggaraan,
kesiapan sarana dan prasarana, serta jaminan keselamatan dan keamanan selama
pelaksanaan FORNAS IX Tahun 2027.
Selain mengacu pada laporan KORMI Sulawesi Tengah, keputusan
itu juga didasarkan pada hasil evaluasi dan Rapat Pleno Pengurus KORMI Nasional
yang digelar pada 23 Juli 2026. Dalam rapat tersebut disimpulkan perlunya
langkah strategis guna menjamin kepastian, keamanan, keselamatan, serta
keberhasilan penyelenggaraan FORNAS IX.
Melalui diktum pertama, KORMI Nasional mencabut dan menyatakan
tidak berlaku lagi Surat Keputusan Nomor 042/SK/KORMINAS/VIII/2025 yang
sebelumnya menetapkan Sulawesi Tengah sebagai tuan rumah FORNAS IX Tahun 2027.
Pada diktum kedua dijelaskan, pencabutan dilakukan
berdasarkan hasil evaluasi atas tingkat kesiapan penyelenggaraan sebagaimana
dilaporkan KORMI Sulawesi Tengah, sekaligus demi menjamin FORNAS IX dapat
terlaksana secara aman, tertib, berkualitas, dan sesuai prinsip tata kelola
organisasi yang baik.
Selanjutnya, melalui diktum ketiga, KORMI Nasional menyatakan
akan melaksanakan proses penetapan tuan rumah FORNAS IX Tahun 2027 sesuai
mekanisme organisasi yang berlaku.
Ketua KORMI Sulawesi Tengah, Syaifullah Djafar, menegaskan
organisasi yang dipimpinnya tidak pernah meminta agar status tuan rumah
dicabut. Menurutnya, seluruh laporan yang dikirim kepada KORMI Nasional
semata-mata merupakan bentuk keterbukaan mengenai kondisi riil persiapan di
daerah.
KORMI Sulteng tidak pernah meminta FORNAS dibatalkan. Kami sudah berjuang sejak awal. Namun saya juga tidak bisa menyampaikan seolah-olah semuanya sudah pasti sementara anggarannya belum jelas," ujar Syaifullah dalam rapat bersama induk organisasi olahraga (Inorga) dan pengurus KORMI kabupaten/kota, Jumat (31/7/2026).
Syaifullah menjelaskan, faktor paling krusial dalam evaluasi
KORMI Nasional adalah belum adanya kepastian dukungan anggaran dari Pemerintah
Provinsi Sulawesi Tengah.
Padahal, kata dia, KORMI Sulteng telah melakukan berbagai
tahapan persiapan sejak ditetapkan sebagai tuan rumah. Salah satunya melakukan
survei terhadap sekitar 35 lokasi yang dinilai layak digunakan sebagai venue
pertandingan dan kegiatan FORNAS.
Ia menegaskan karakter olahraga masyarakat berbeda dengan
ajang olahraga prestasi seperti Pekan Olahraga Nasional (PON). Karena itu,
penyelenggaraan FORNAS tidak mengharuskan pembangunan seluruh venue baru.
FORNAS itu pada prinsipnya tidak perlu membangun venue. Berbeda dengan PON yang membutuhkan venue dengan standar tertentu. Untuk olahraga masyarakat, banyak tempat yang sudah tersedia bisa digunakan," katanya.
Menurut Syaifullah, pembahasan mengenai pembangunan kawasan
Hutan Kota Palu selama ini tidak bisa dianggap sebagai solusi atas seluruh
kebutuhan penyelenggaraan FORNAS.
Persoalan utama, lanjut dia, justru berada pada kebutuhan
anggaran operasional penyelenggaraan. Dana tersebut diperlukan untuk pengadaan
perlengkapan pertandingan, medali, akomodasi peserta, transportasi, pelayanan
kesehatan, pengamanan, operasional puluhan venue, hingga berbagai kebutuhan
teknis lainnya.
Selain menjadi penyelenggara, Sulawesi Tengah juga tetap
harus menyiapkan kontingen sebagai peserta FORNAS sehingga membutuhkan dukungan
anggaran tambahan.
KORMI Sulawesi Tengah memperkirakan total kebutuhan anggaran
penyelenggaraan beserta kontingen mencapai sekitar Rp40 miliar. Usulan
tersebut, kata Syaifullah, telah dipaparkan kepada Dinas Pemuda dan Olahraga
dan diteruskan kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.
Namun hingga laporan terakhir disampaikan kepada KORMI
Nasional pada 20 Juli 2026, belum ada kepastian mengenai alokasi anggaran
maupun surat dukungan resmi dari pemerintah provinsi yang dapat dijadikan dasar
penyelenggaraan.
Yang dibicarakan selama ini lebih banyak pembangunan Hutan Kota dan anggaran fisik. Sementara anggaran pelaksanaan FORNAS sendiri tidak pernah benar-benar dibahas," ujarnya.
Syaifullah menegaskan KORMI hanya memiliki kewenangan
mengusulkan kebutuhan anggaran, sedangkan keputusan pengalokasian sepenuhnya
berada di tangan pemerintah daerah.
Ia menjelaskan, seluruh perkembangan persiapan telah
dilaporkan secara bertahap kepada KORMI Nasional. Laporan pertama yang dikirim
pada 28 April 2026 memuat berbagai persiapan, di antaranya survei 35 calon
venue, pembentukan sekitar 72 induk organisasi olahraga (Inorga), serta
pelaksanaan sayembara dan peluncuran identitas FORNAS.
Laporan kedua dikirim pada 15 Juni 2026, disusul laporan
ketiga pada 20 Juli 2026. Dalam ketiga laporan tersebut, KORMI Sulawesi Tengah
tetap menyatakan komitmennya untuk menjadi tuan rumah, namun juga menyampaikan
secara terbuka bahwa kepastian dukungan anggaran dari pemerintah daerah belum
diperoleh.
Menurut Syaifullah, penyampaian kondisi tersebut merupakan
bentuk tanggung jawab organisasi kepada KORMI Nasional, bukan sebagai
permintaan agar penetapan tuan rumah dibatalkan.
Kami hanya menyampaikan kondisi sebenarnya. Saya tidak mungkin melaporkan bahwa semuanya sudah siap kalau memang dukungan anggarannya belum jelas. Itu yang kemudian menjadi bahan evaluasi KORMI Nasional," pungkasnya. (bar)
.png)

