Menakar Kesehatan Agroekosistem Bawang Merah Lokal Palu
Oleh: Dr. Sri Sudewi, S.P., M.Sc.
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Alkhairaat dan Peneliti Pusat Riset
Tanaman Pangan BRIN, kepakaran Mikrobiologi Tanah, Agronomi, Ilmu Pertanian
Tanah tidak pernah
benar-benar diam. Di bawah hamparan bawang merah lokal Palu, mikroorganisme
bekerja tanpa suara dengan menguraikan bahan organik, membantu perputaran unsur
hara, dan berinteraksi dengan akar tanaman. Kehidupan yang tidak kasatmata ini
sering luput dari keputusan budidaya. Ketika hama datang, perhatian terpusat
pada bagian tanaman yang terlihat, lalu insektisida menjadi jawaban paling
cepat.
Bagi petani,
penggunaan insektisida tentu bukan tanpa alasan. Serangan hama dapat menurunkan
hasil dan menggerus pendapatan. Namun, ketika penyemprotan terlalu sering dan
berubah menjadi kebiasaan rutin, ada ongkos ekologis yang jarang masuk dalam
perhitungan usaha tani. Hama mungkin terkendali, tetapi daya dukung lahan dapat
melemah. Agroekosistem bukan hanya tanaman yang sedang dibudidayakan. Di
dalamnya terdapat hubungan antara tanah, mikroba, tanaman, hama, iklim, dan
cara petani mengelola lahan. Karena itu, kesehatannya tidak cukup dinilai dari
hasil panen atau warna hijau daun. Kondisi tanah dan kehidupan di dalamnya juga
harus diperhitungkan.
Riset yang
dilakukan oleh Dr. Ir. Hasmari Noer, M.Si., Dr. Sri Sudewi, S.P., M.Sc., Dr.
Ir. If’all, S.TP., M.Si., dan Dr. Abdul Rahim Saleh, S.P., M.Sc. memperlihatkan
pentingnya cara pandang tersebut. Penelitian kolaboratif Universitas
Alkhairaat, Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, dan Universitas Sintuwu Maroso ini
dipublikasikan dalam International Journal of Agriculture and Biosciences
dengan judul Soil-Plant-Microbe Interactions under Insecticide Pressure.
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa lahan dengan tekanan insektisida tinggi mengalami penurunan
fosfor dan kalium tersedia. Kapasitas tukar kation tanah juga semakin rendah.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tanah mulai kehilangan sebagian kemampuannya
dalam mengikat, menyimpan, dan menyediakan unsur hara bagi tanaman. Tekanan itu
juga terlihat pada tanaman. Tingkat kehijauan daun yang sempat meningkat pada
tekanan insektisida menengah kembali menurun pada tekanan tertinggi. Serapan
nitrogen, fosfor, dan kalium oleh umbi juga berkurang. Artinya, penampilan
tanaman di permukaan tidak dapat dipisahkan dari kondisi tanah dan aktivitas
mikroba di bawahnya.
Populasi
mikroba tanah turut mengalami tekanan. Meski demikian, kami menemukan tiga
mikroba dominan yang masih bertahan, yakni Aspergillus niger, Trichoderma
asperellum, dan Bacillus cereus. Temuan ini membawa dua pesan.
Pertama, kehidupan tanah memiliki daya lenting. Kedua, kemampuan beberapa
mikroba bertahan tidak berarti agroekosistem masih baik-baik saja. Aspergillus
niger dapat berperan dalam penguraian bahan organik dan transformasi unsur
hara. Trichoderma asperellum berpotensi berinteraksi dengan akar serta menekan
sejumlah patogen tanaman. Sementara itu, Bacillus cereus mampu hidup
pada lingkungan pertanian yang tertekan. Namun, keberadaannya bukan tiket
otomatis untuk menjadikannya sebagai agens hayati. Identifikasi sampai tingkat
strain dan uji keamanan hayati wajib dilakukan karena karakter setiap strain
dapat berbeda.
Mikroba lokal
bukan “obat ajaib” yang dapat langsung dituangkan ke lahan tertekan. Mengganti
botol insektisida dengan botol pupuk hayati tanpa diagnosis dan pengujian hanya
akan mengulang pola lama dimana petani tetap bergantung pada produk, sedangkan
akar masalah tidak diselesaikan. Mikroba harus melalui karakterisasi, pengujian
fungsi, pemeriksaan keamanan, formulasi, dan validasi lapangan. Karena itu,
saya mengusulkan Gerakan Tanah Sehat Sulteng yang mempertemukan petani,
penyuluh, perguruan tinggi, BRIN, pemerintah daerah, dan pelaku usaha. Gerakan
ini dapat dimulai melalui Kartu Kesehatan Tanah, Bank Mikroba Lokal, dan Klinik
Tanah Bergerak.
Kartu
Kesehatan Tanah memuat hasil pemeriksaan pH, bahan organik, unsur hara,
kapasitas tukar kation, residu pestisida, serta indikator biologis pada setiap
sentra produksi. Dengan data tersebut, rekomendasi pengelolaan lahan tidak lagi
disamaratakan. Petani memperoleh perlakuan sesuai kondisi lahannya, sedangkan
pemerintah memiliki dasar ilmiah untuk menentukan lahan yang sehat, tertekan,
atau perlu segera dipulihkan.
Bank Mikroba
Lokal diperlukan untuk menyimpan, memetakan, dan menyeleksi mikroba asli
Sulawesi Tengah. Isolat yang terbukti fungsional dan aman dapat dikembangkan
menjadi teknologi hayati daerah. Klinik Tanah Bergerak kemudian membawa
pemeriksaan sederhana, konsultasi pengendalian hama, serta pendampingan
penggunaan bahan organik dan agen hayati langsung ke desa produksi. Gagasan
tersebut perlu diuji melalui demplot “Lahan Pulih” yang membandingkan praktik
petani, penggunaan insektisida berdasarkan hasil pengamatan, penambahan bahan
organik, dan aplikasi mikroba terpilih. Keberhasilannya tidak hanya diukur dari
panen satu musim, tetapi juga dari biaya input, ketersediaan hara, keamanan
produk, kehidupan mikroba, dan pendapatan petani selama beberapa musim.
Kebijakan
pertanian daerah pun perlu beranjak dari ukuran keberhasilan yang hanya
bertumpu pada luas tanam, jumlah produksi, atau banyaknya bantuan yang
dibagikan. Sebagian dukungan input kimia dapat diarahkan untuk pemeriksaan
kesehatan tanah, produksi kompos bermutu, perangkap hama, penguatan musuh
alami, dan insentif bagi kelompok tani yang mampu mengurangi penggunaan
pestisida tanpa menurunkan produksi.
Pesan riset
ini bukan menghentikan penggunaan insektisida sepenuhnya. Insektisida tetap
diperlukan ketika populasi hama mencapai tingkat yang merugikan. Namun,
penggunaannya perlu berpindah dari jadwal rutin menuju keputusan berbasis
pengamatan: tepat jenis, dosis, sasaran, dan waktu. Bawang merah lokal Palu
bukan hanya komoditas. Ia adalah identitas, sumber pendapatan, dan bagian dari
pengetahuan masyarakat Sulawesi Tengah. Menjaganya berarti menjaga keseluruhan
agroekosistem yang menopang produksinya. Menakar kesehatan agroekosistem
menjadi langkah awal agar kebijakan pertanian tidak hanya mengejar panen hari
ini, tetapi juga menjaga kemampuan lahan untuk tetap produktif pada masa
mendatang. (***)
.png)

