Mahasiswa Untad Desak Polda Sulteng Usut Dugaan Korupsi Proyek WC 11 Fakultas
BERANI BERSUARA - Aksi unjuk rasa pada forum mimbar bebas menuntut pengusutan dugaan korupsi WC di Untad, Selasa 18 Agustus 2026. Foto IST
PALU, Radar Sulteng – Mahasiswa Universitas Tadulako (Untad) mendesak Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tengah mengusut tuntas dugaan korupsi dalam proyek rehabilitasi toilet di 11 fakultas Universitas Tadulako.
Desakan tersebut disampaikan dalam aksi unjuk rasa yang
dikemas melalui forum mimbar bebas, Jalan Soekarno Hatta, Selasa malam
(18/8/2026).
Aksi berlangsung selepas Magrib dan diikuti sejumlah
mahasiswa yang menyuarakan berbagai persoalan, baik di lingkungan kampus maupun
kebijakan pemerintah pusat.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyoroti proyek rehabilitasi
toilet 11 fakultas di Untad yang menggunakan anggaran sekitar Rp7 miliar.
Mereka meminta aparat penegak hukum tidak berhenti pada
informasi awal, tetapi melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap proses
perencanaan, penganggaran, pelaksanaan hingga pertanggungjawaban proyek
tersebut.
Mahasiswa menilai besarnya anggaran yang dialokasikan untuk
pekerjaan rehabilitasi toilet perlu dibuka secara transparan kepada publik.
Terlebih, proyek tersebut menjadi sorotan setelah muncul pertanyaan mengenai
kesesuaian antara nilai pekerjaan dengan kondisi fisik serta item pekerjaan
yang dilakukan.
Selain soal toilet atau WC, para mahasiswa juga meminta
disusut dugaan korupsi lainnya di Untad seperti dugaan korupsi tender pengadaan
barang dan jasa pada tahun anggaran 2024, juga temuan lainnya pengadaan mesin
atau alat laboratorium
Dalam forum mimbar bebas itu juga mahasiswa meminta pihak-pihak yang terlibat dalam
proses pengadaan maupun pelaksanaan pekerjaan diperiksa untuk memastikan ada
atau tidaknya kerugian negara.
Polda Sulteng harus mengusut tuntas dugaan korupsi dalam proyek WC 11 fakultas Untad. Jangan sampai persoalan ini hanya menjadi polemik tanpa ada kejelasan proses penegakan hukumnya,” demikian salah satu tuntutan yang disuarakan mahasiswa dalam forum tersebut.
Salah satu program yang turut diprotes dalam aksi tersebut
adalah program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes). Mahasiswa
mempertanyakan arah dan implementasi program nasional tersebut serta meminta
pemerintah memastikan program yang menggunakan anggaran negara benar-benar
memberikan manfaat bagi masyarakat.
Bagi mahasiswa, kebijakan pemerintah harus tetap mendapat
pengawasan publik, termasuk dari kalangan akademisi dan mahasiswa. Mereka
menilai kritik merupakan bagian dari kontrol sosial untuk memastikan program
pemerintah berjalan transparan dan berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Aksi berlangsung dalam suasana forum terbuka. Mahasiswa
secara bergantian menyampaikan pandangan dan tuntutan terkait persoalan kampus
maupun kebijakan nasional. (bar)
.png)

