BPDP dan BBPP Kerja Sama Tingkatkan Pembuatan Pupuk Organik bagi Petani Sawit

Daftar Isi

DIBUKA – Kepala BBPP Batangkaluku Jamaluddin Al Afgani membuka kegiatan peningkatan pembuatan pupuk organik bagi masyarakat Morowali angkatan 1, 2, dan 3. Foto: Salam La'abu

PALU, Radar Sulteng – Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bekerja sama dengan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDM) Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku, Selasa (11/8), kembali menyelenggarakan pelatihan peningkatan pembuatan pupuk organik bagi masyarakat Kabupaten Morowali tahun 2026, di salah satu hotel di Palu.

Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani, MP, mengatakan pelatihan pembuatan dan aplikasi pupuk organik angkatan 3, 4, dan 5 bertujuan agar petani sawit memiliki alternatif dalam meningkatkan produksi dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia.

Kita berharap peningkatan pembuatan pupuk organik ini bisa meningkatkan kesejahteraan petani, karena kita pahami bahwa sawit merupakan salah satu tanaman yang saat ini tidak masuk dalam kategori pupuk yang disubsidi oleh pemerintah. Oleh karena itu, dengan adanya keterampilan yang Bapak-Ibu miliki, diharapkan bisa mengurangi ketergantungan kita terhadap pupuk kimia,” jelasnya.

Kata Jamal, penggunaan pupuk organik bukan berarti menghilangkan ketergantungan pada pupuk kimia, tetapi dapat menguranginya hingga 30, 40, bahkan sampai 50 persen. Sehingga, pemanfaatan pupuk organik sangat membantu dalam meningkatkan penghasilan, terutama bagi petani sawit, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.

Menurutnya, penggunaan pupuk organik sudah menjadi kesepakatan para ahli secara ekonomi karena dinilai sangat menguntungkan. Selain itu, ketersediaan bahan baku sangat mudah diperoleh dan proses pembuatannya juga mudah dilakukan.

Dan secara aplikasi juga sangat mudah dilaksanakan, sehingga tidak ada alasan bagi petani, khususnya petani sawit, untuk tidak berhasil dalam proses budi daya. Sekarang yang menjadi tanggung jawab pemerintah adalah bagaimana menyiapkan kompetensi supaya petani punya kemampuan untuk membuat pupuk organik dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar kita,” ujarnya.

Jamal berharap, setelah petani sawit kembali ke tempat masing-masing, tanggung jawab utama mereka adalah memberikan edukasi mengenai pembuatan pupuk organik kepada petani sawit lain yang belum berkesempatan mengikuti kegiatan tersebut.

Dirinya meminta agar peserta tidak pernah ragu dalam berbagi ilmu. Sebab, setiap ilmu yang dibagikan tidak akan membuat orang yang berbagi mengalami kerugian, justru akan mendatangkan keberkahan.

Karena itu, dia meminta agar pelatihan tersebut diikuti dengan saksama dan dicermati dengan baik, termasuk dengan mengajukan pertanyaan kepada narasumber ketika ada materi yang belum dipahami.

Pastikan ketika meninggalkan tempat pelatihan ini sudah tidak ada lagi beban bahwa saya tidak bisa membuat pupuk organik, dan tidak ada lagi yang menyatakan bahwa saya belum paham. Oleh karena itu, dalam proses ini, ketika ada yang benar-benar belum dipahami, dapat ditanyakan. Kita nanti akan membuka ruang diskusi,” katanya.

Menurutnya, pembuatan dan aplikasi pupuk organik memiliki tujuan yang sangat penting, yakni memperkenalkan kepada masyarakat cara membuat pupuk organik, memberikan pemahaman kepada para petani mengenai manfaat penggunaan pupuk organik, serta bagaimana mengaplikasikannya pada berbagai jenis tanaman. (lam)

 


 

IKLAN