Teater Tragedi di Masungkang
Oleh: Supriadi Lawani*
Aristoteles pernah menulis bahwa tragedi adalah kisah
tentang manusia yang, melalui rangkaian peristiwa yang menggetarkan,
membangkitkan rasa iba dan takut hingga penonton mengalami katarsis. Berabad-abad
kemudian, teater tragedi itu ternyata tidak hanya hidup di panggung-panggung
Yunani. Ia dipentaskan setiap pagi di sebuah sudut negeri yang jauh dari
gemerlap kekuasaan, yaitu di tepian Sungai Masungkang, Kecamatan Batui Selatan,
Kabupaten Banggai.
Panggungnya bukan marmer. Atapnya bukan langit-langit
teater. Musik pengiringnya bukan denting orkestra, melainkan gemuruh arus
sungai yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi ancaman. Tirainya dibuka setiap
matahari terbit, malu-malu tertutup awan gelap, dan para pemeran utamanya
adalah anak-anak berseragam merah putih dan biru putih, yang bahkan mungkin
belum memahami arti kata "tragedi". Mereka hanya tahu satu hal: jika
ingin belajar, mereka harus menyeberangi sungai.
Mereka saling menggenggam tangan. Bukan karena sedang
bermain. Bukan pula karena sedang merayakan persahabatan. Mereka berpegangan
agar tidak hanyut. Agar tubuh kecil mereka tidak diseret arus. Agar cita-cita
mereka tidak tenggelam sebelum sempat tumbuh.
Betapa memilukannya sebuah negeri ketika tangan anak-anak
harus menggantikan fungsi jembatan yang tak pernah dibangun.
Dalam teater Yunani, penonton menangis karena menyaksikan
tokoh utama dikalahkan oleh takdir. Di Masungkang, yang mengalahkan anak-anak
itu bukanlah takdir. Sungai hanya mengalir sebagaimana mestinya. Hujan hanya
menjalankan hukum alam. Yang menciptakan tragedi adalah pilihan-pilihan
manusia. Ketika negara memiliki kemampuan membangun tetapi gagal menentukan apa
yang paling mendesak, tragedi lahir bukan dari alam, melainkan dari kebijakan.
Di sinilah ironi itu mencapai puncaknya.
Di saat anak-anak mempertaruhkan nyawa demi memperoleh hak
atas pendidikan, anggaran negara justru mampu menemukan jalannya menuju
proyek-proyek yang lebih megah. Kolam renang bernilai miliaran rupiah dapat
berdiri dengan indah. Keramik dipoles hingga berkilau. Air dibuat tenang agar
nyaman dinikmati. Sementara puluhan kilometer dari sana, anak-anak masih harus
bergulat dengan air sungai yang keruh dan deras hanya untuk sampai ke ruang
kelas.
Dua jenis air hidup berdampingan dalam satu pemerintahan.
Yang satu dijaga agar tetap jernih demi rekreasi. Yang lain dibiarkan menjadi
arena pertaruhan hidup bagi anak-anak. Sulit menemukan satir yang lebih pahit
daripada kenyataan semacam itu.
Mungkin kelak akan datang hari ketika jembatan akhirnya
dibangun. Para pejabat akan berdiri di atasnya mengenakan helm proyek. Pita
akan dipotong. Kamera akan mengabadikan senyum kemenangan.
Pidato-pidato akan mengulang kalimat yang sama: pembangunan
telah hadir hingga pelosok desa. Tetapi sejarah mempunyai ingatan yang tidak
mudah dihapus oleh seremoni. Ia akan mencatat bahwa sebelum jembatan itu
berdiri, pernah ada anak-anak yang setiap pagi memainkan teater tragedi di atas
arus Sungai Masungkang, sementara negara memilih menjadi penonton.
Aristoteles percaya bahwa tragedi yang agung akan melahirkan
katarsis, pemurnian hati bagi mereka yang menyaksikannya. Pertanyaannya, apakah
para pejabat kita masih memiliki hati yang dapat dimurnikan? Ataukah hati
mereka telah terlalu membatu melihat anak-anak mempertaruhkan nyawa sehingga
penderitaan mereka berubah menjadi sekadar video yang lewat di layar telepon
mahal, lalu hilang bersama guliran jempol?
Sebab, ukuran kemajuan sebuah bangsa tidak pernah ditentukan
oleh megahnya bangunan yang diresmikan, melainkan oleh hal yang jauh lebih
sederhana: apakah seorang anak dapat pergi ke sekolah tanpa harus lebih dahulu
berunding dengan maut.
Dan selama Sungai Masungkang masih menjadi ruang kelas
pertama tentang keberanian, sementara jembatan hanya hidup dalam janji dan
proposal anggaran, selama itu pula teater tragedi akan terus dipentaskan. Bukan
oleh para aktor. Bukan oleh para penyair. Melainkan oleh anak-anak yang bahkan
belum cukup umur untuk memahami mengapa negara membiarkan mereka menjadi tokoh
utama dalam kisah yang seharusnya tidak pernah ditulis. Sebuah teater tragedi
yang memilukan. (*)
*Penulis adalah petani pisang.
.png)

