Siswa SMP Satu Atap Batui Seberangi Sungai Deras ke Sekolah
PALU, Radar Sulteng – Perjuangan pelajar SMP
Negeri Satu Atap Batui (SMPN 5 Batui), Kabupaten Banggai, yang setiap hari
harus menyeberangi Sungai Wilayah Konservasi Maleo Sambal (KWS) untuk menuju
sekolah kembali ramai diperbincangkan.
Ilustrasi
Kondisi tersebut dinilai menunjukkan masih
lambannya pemerintah daerah dalam merespons kebutuhan dasar masyarakat.
Aktivis Sulawesi Tengah asal Luwuk, Asrudin
Rongka, meminta Pemerintah Kabupaten Banggai tidak lagi sebatas memberikan
janji, tetapi segera merealisasikan pembangunan jembatan yang telah lama
dinantikan masyarakat.
Jangan banyak janji. Masyarakat tidak membutuhkan lagi wacana, tetapi membutuhkan tindakan nyata. Persoalan ini sudah lama terjadi dan sempat viral sejak 2023, namun sampai sekarang anak-anak masih harus menghadapi risiko saat berangkat sekolah," ujar Asrudin kepada Radar Sulteng, Kamis (23/7/2026).
Menurutnya, akses pendidikan merupakan
kebutuhan mendasar yang seharusnya menjadi perhatian utama pemerintah. Ia
menilai, kondisi pelajar yang harus menyeberangi sungai dengan bantuan guru
memperlihatkan adanya persoalan serius dalam penyediaan infrastruktur dasar.
Anak-anak ini sedang memperjuangkan masa depan mereka. Mereka seharusnya mendapat akses sekolah yang aman, bukan harus mempertaruhkan keselamatan hanya untuk mengikuti pelajaran," katanya.
Asrudin juga menyoroti kecepatan Pemerintah
Kabupaten Banggai dalam merespons sejumlah kebutuhan hibah untuk aparat penegak
hukum (APH), dibandingkan dengan persoalan masyarakat yang menurutnya berjalan
lebih lambat.
Ketika ada permintaan hibah dari APH, pemerintah daerah bisa bergerak cepat. Tetapi ketika masyarakat membutuhkan fasilitas dasar seperti jembatan, prosesnya justru terkesan lambat. Pemerintah harus menunjukkan bahwa kepentingan masyarakat juga menjadi prioritas utama," tegasnya.
Ia menekankan, kritik tersebut bukan untuk
membandingkan kepentingan antarinstansi, melainkan mengingatkan agar pemerintah
memiliki kepekaan yang sama terhadap kebutuhan warga.
Semua pihak yang berkaitan dengan pelayanan publik tentu penting, termasuk APH. Namun kebutuhan langsung masyarakat seperti akses pendidikan dan keselamatan warga juga tidak boleh dikesampingkan dan harus diutamakan," ujarnya.
Asrudin berharap Pemkab Banggai segera
melakukan kajian teknis dan menyiapkan langkah penganggaran pembangunan
jembatan. Jika kemampuan APBD terbatas, pemerintah daerah dapat membuka ruang
koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah maupun pemerintah pusat.
Yang dibutuhkan masyarakat adalah kepastian. Jangan sampai persoalan ini terus muncul setiap tahun tanpa penyelesaian," tambahnya.
Diketahui, pelajar dari empat desa di kawasan
Masungkang, Kecamatan Batui Selatan, harus menyeberangi Sungai Wilayah
Konservasi Maleo Sambal (KWS) untuk menuju SMP Negeri Satu Atap Batui di Desa
Ondo-Ondolu, Kecamatan Batui.
Pemda Banggai juga sebelumnya menyatakan telah
menganggarkan perencanaan atau Detail Engineering Design (DED) untuk
pembangunan jembatan. Namun, hingga kini, jembatan yang dinantikan masyarakat
belum juga terwujud. Belum ada kepastian kapan pembangunan fisik jembatan akan
dimulai.
Dalam video yang kembali beredar di media
sosial, para pelajar terlihat saling bergandengan tangan dan dibantu para guru
saat menyeberangi sungai. Warga berharap pemerintah segera membangun jembatan
permanen agar aktivitas pendidikan dan mobilitas masyarakat dapat berlangsung
lebih aman dan layak. (bar)
.png)
