Safri Usulkan RDP Desak Transparansi Kondisi PT GNI
PALU, Radar Sulteng - Ketua Fraksi PKB DPRD Provinsi Sulteng, Muhammad Safri, mendesak pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Sulteng membuka informasi secara transparan mengenai keadaan PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) setelah mencuatnya kabar perusahaan tersebut tengah menghadapi masalah berat yang berdampak pada pemutusan hubungan kerja (PHK) ribuan karyawan.
Publik berhak mengetahui kondisi sebenarnya. Apakah PT GNI benar-benar mengalami kesulitan keuangan, sedang menjalani restrukturisasi, atau masih beroperasi normal. Jangan sampai masyarakat hanya menerima informasi yang simpang siur, sementara pemerintah memilih diam," jelas Safri melalui sambungan telepon, Sabtu (11/7/2026).
Sebagai bagian dari fungsi pengawasan, Safri
meminta DPRD Sulteng segera menggelar rapat dengar pendapat (RDP) dengan
menghadirkan manajemen PT GNI, Dinas Tenaga Kerja, Dinas ESDM, BPJS
Ketenagakerjaan, serikat pekerja, Pemerintah Kabupaten Morowali Utara, serta
pihak yang menangani proses PKPU.
DPRD harus mendapatkan jawaban yang jelas. Apa penyebab perusahaan berada dalam kondisi seperti ini? Apakah hak seluruh pekerja sudah dipenuhi? Bagaimana nasib pekerja jika restrukturisasi gagal? Apa langkah konkret pemerintah mencegah dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas? Pelajaran apa yang akan diambil agar investasi besar di Sulteng memiliki tata kelola yang sehat, transparan, bertanggung jawab, dan tidak meninggalkan persoalan ketika menghadapi krisis," ujarnya.
Menurut Safri, Kementerian Perindustrian,
Kementerian ESDM, Pemerintah Sulteng, manajemen PT GNI, dan pengurus PKPU perlu
segera mengeluarkan pernyataan resmi supaya tidak ada ruang bagi spekulasi yang
meresahkan warga. Ia menegaskan persoalan ini bukan lagi sekadar urusan
internal perusahaan sebab, jika benar ribuan pekerja terkena dampak, imbasnya
akan meluas ke berbagai sektor ekonomi Morowali Utara (Morut).
Yang terpukul bukan hanya pekerja. UMKM, usaha kos-kosan, transportasi, pedagang kecil hingga penerimaan daerah juga akan terkena imbasnya. Pemerintah harus menghitung dampak ekonomi ini secara serius, bukan menunggu krisis semakin meluas," ujarnya.
Atas pertimbangan tersebut, ia mendorong
Pemerintah provinsi Sulteng bersama Pemerintah Kabupaten Morut untuk segera
menyiapkan kajian dampak ekonomi sebagai landasan menyusun langkah mitigasi.
Safri juga meminta pemerintah menyiapkan skema darurat bila kondisi perusahaan
terus memburuk, di antaranya penempatan ulang tenaga kerja, program pelatihan
keterampilan, hingga perlindungan sosial bagi pekerja yang terdampak.
Ia turut mendesak agar seluruh komitmen
investasi PT GNI ditinjau ulang, termasuk realisasi penyerapan tenaga kerja,
pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), kepatuhan terhadap
kewajiban lingkungan, hingga pemenuhan hak-hak pekerja.
Kalau selama ini perusahaan mendapat berbagai kemudahan investasi dari negara, maka publik juga berhak mengetahui apakah seluruh komitmen itu telah dipenuhi. Jangan hanya menikmati insentif, tetapi ketika menghadapi persoalan yang menanggung akibatnya justru masyarakat dan pemerintah daerah," tambahnya.
Safri turut mempertanyakan lemahnya pengawasan
negara terhadap perusahaan-perusahaan strategis yang mengelola investasi
bernilai triliunan rupiah dan mempekerjakan ribuan orang.
Kita sering mendengar angka investasi yang fantastis. Tetapi ketika perusahaan menghadapi persoalan, pemerintah seperti tidak memiliki sistem deteksi dini. Apakah pemerintah pernah memantau kesehatan keuangan perusahaan-perusahaan besar ini? Apakah ada early warning system sebelum kondisi seperti ini terjadi?" tegasnya.
Ia menilai kasus yang membelit PT GNI
semestinya dijadikan bahan evaluasi kebijakan hilirisasi nasional yang selama
ini terlalu berfokus pada besaran nilai investasi dan pembangunan smelter,
tanpa cukup memperhatikan keberlanjutan usaha, tata kelola perusahaan, dan
perlindungan pekerja. Baginya, keberhasilan hilirisasi semestinya diukur dari
kesehatan industri, perlindungan pekerja, kelestarian lingkungan, dan
keberlanjutan investasi, bukan sekadar angka penanaman modal. Ia menyebut,
apabila satu perusahaan bermasalah hingga membuat ribuan orang kehilangan mata
pencaharian, maka ada aspek yang perlu dievaluasi ulang.
Kondisi tersebut juga menurut Safri dapat
sekaligus menjadi peringatan bagi Morut yang selama ini sangat bergantung pada
industri pengolahan nikel. Ia mengungkapkan bahwa daerah tidak boleh
menggantungkan ekonomi hanya pada satu sektor atau beberapa perusahaan besar
sehingga yang terjadi adalah ketika satu industri terguncang, ekonomi daerah
tidak langsung ikut goyah.
Diversifikasi ekonomi harus segera menjadi agenda pemerintah," pungkasnya (ZAR)
.png)

