Buka Keran Kesejahteraan Petani, Pemkab Parimo Pasang Strategi Lewat GEMPITA PARIMO
![]() |
| Launching aplikasi dashboard Gempita Parimo merupakan aplikasi potensi kelapa berbasis data |
PARIGI, Radar Sulteng – Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) terus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah berbasis potensi lokal melalui inovasi GEMPITA PARIMO (Gerakan Hilirisasi Kelapa Dalam Terpadu).
Program ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani dengan mengoptimalkan nilai tambah komoditas kelapa melalui pengolahan dari hulu hingga hilir.
Inovasi tersebut diprakarsai Asisten II Bidang Perekonomian
dan Pembangunan Setda Parigi Moutong, Aswini Dimple, SKM., M.Kes., dengan
pendampingan Sekretaris Daerah Kabupaten Parigi Moutong, Zulfinasran, SSTP.,
M.AP.
Aswini Dimple mengatakan Kabupaten Parigi Moutong memiliki potensi besar di sektor perkebunan kelapa dalam dengan luas mencapai lebih dari 25.854 hektare. Komoditas tersebut menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 35 ribu kepala keluarga petani. Namun selama ini, sebagian besar hasil panen masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah ekonomi justru dinikmati daerah lain.
"Sebagian besar hasil produksi kita selama ini dijual
keluar dalam bentuk buah mentah. Kebiasaan ini membuat nilai tambah ekonominya
justru dinikmati oleh daerah lain. Melalui Gerakan GEMPITA PARIMO, kita ingin
mengubah pola pikir dan tata kelola tersebut dari hulu hingga hilir," ujar
Aswini.
![]() |
| Workshop penerapan GEMPITA |
Melalui GEMPITA PARIMO, pemerintah daerah menerapkan konsep pengelolaan kelapa secara terpadu atau zero waste, sehingga seluruh bagian buah kelapa dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomi. Selain daging kelapa, air kelapa, tempurung, hingga sabut akan diolah menjadi berbagai produk seperti Virgin Coconut Oil (VCO), briket arang, coco peat, dan produk turunan lainnya.
Untuk mendukung pengembangan industri hilirisasi tersebut,
Pemkab Parimo juga meluncurkan aplikasi Si Gempita (Sistem Informasi Gerakan
Hilirisasi Kelapa Terpadu). Aplikasi ini berfungsi sebagai basis data yang
memetakan potensi komoditas kelapa di setiap wilayah secara akurat dan berbasis
data real time, sehingga memudahkan perencanaan, distribusi, hingga
pengembangan industri.
Program ini juga diarahkan untuk memperkuat perekonomian
desa melalui pengembangan Sentra Industri Kecil dan Menengah (SIKM) serta
pemberdayaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Keberadaan industri hilirisasi
diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru sekaligus memberikan kepastian
pasar dan harga bagi hasil panen petani.
Aswini menegaskan, pemerintah ingin memastikan petani
menjadi pelaku utama yang memperoleh manfaat dari proses hilirisasi, bukan
sekadar pemasok bahan baku.
![]() |
| Kegiatan kemitraan.membangun komunikasi dg pengepul kelapa, perbankan dan opd terkait terkait pengepul kelapa mendapatakan pemahaman untuk bermitra menaikkan pendapatan |
"Kami ingin memastikan bahwa petani tidak lagi sekadar menjadi penonton, tetapi menjadi aktor utama yang menikmati manisnya hilirisasi. Dengan sinergi seluruh OPD, elemen masyarakat, serta pelaku usaha, Parigi Moutong siap bertransformasi menjadi pusat industri pengolahan kelapa yang mandiri dan berdaya saing," pungkasnya. (*)
.png)




