Berawal dari Kegagalan dan Sebuah Email, Dua Pelajar SMAN Madani Kini Terbang ke Korea dan Norwegia

Daftar Isi
BERPRESTASI
- Muddatsir Aditya Fadlurahman Nento (kiri) dan Aflah Riztaniarani (kanan) yang akan siap menuju Korea Selatan dan Norwegia di bulan Agustus mendatang. Andika Nur Hikmah/ Radar Sulteng

Mengikuti The I-ASEAN Global Youth Camp (IAGYC) 2026

Dari kegagalan seleksi hingga email yang nyaris diabaikan, Muddatsir Aditya Fadlurahman Nento dan Aflah Riztaniarani membuktikan bahwa mimpi pelajar dari Palu mampu menembus panggung internasional. Agustus 2026 menjadi awal perjalanan mereka menuju Korea Selatan dan Norwegia.

 TULISAN : Andika Nur Hikmah/ Radar Sulteng

Agustus menjadi bulan yang akan mengubah perjalanan hidup dua pelajar SMA Negeri Model Terpadu Madani Palu. Dalam rentang lima hari, keduanya akan mengemban misi berbeda di panggung internasional.

Muddatsir Aditya Fadlurahman Nento dijadwalkan bertolak ke Incheon, Korea Selatan pada 10 Agustus untuk mengikuti The I-ASEAN Global Youth Camp (IAGYC) 2026 dan kembali ke Indonesia pada 16 Agustus 2026.

Sementara itu, Aflah Riztaniarani bersiap terbang ke Norwegia pada 13 Agustus 2026 melalui Program Pertukaran Pelajar Bina Antarbudaya.

Namun, jalan menuju kesempatan itu tidak selalu mulus.

Bagi Muddatsir, kegagalan saat mengikuti seleksi program ke Jepang justru menjadi titik balik. Ia memilih bangkit, memperbaiki portofolio, video profil, hingga kembali menghadapi proses seleksi. Usahanya akhirnya berbuah manis ketika dinyatakan lolos sebagai peserta IAGYC 2026 di Korea Selatan.

Jujur, saya awalnya yang pertukaran ke Jepang itu kalah di wawancara, lebih tepatnya kurang beruntung. Setelah banyak jerih payah, mulai dari CV, portofolio, video profil, sampai wawancara lagi, akhirnya saya bisa lulus ke Korea Selatan. Jujur, saya tidak mengharapkan bisa sejauh ini,” ujarnya.

Rasa bangga itu semakin besar karena ia menjadi satu dari tiga delegasi Indonesia yang akan mengikuti kegiatan tersebut di Incheon.

Saya berharap bisa mengenalkan budaya Indonesia. Saya juga membawa nama Sulawesi Tengah. Saya sangat berharap bisa mengharumkan nama Indonesia dan bisa berdampak bagi orang-orang sekitar,” katanya.

Menjelang keberangkatan, persiapan Muddatsir disebut matang. Selain menyiapkan materi presentasi mengenai Sustainable Development Goals (SDGs), ia juga mempelajari budaya Korea Selatan karena program tersebut berlangsung selama satu pekan.

Persiapan saya sejauh ini sudah matang. Saya sudah menyiapkan presentasi SDGs dan belajar budaya yang akan ditampilkan di sana,” tuturnya.

Sepulang dari Korea Selatan, Muddatsir ingin membawa lebih dari sekadar pengalaman.

Ia berharap mampu mengajak lebih banyak generasi muda untuk meningkatkan literasi, aktif bersosialisasi, dan berani keluar dari zona nyaman.

Saya harap setelah pulang nanti bisa menginspirasi teman-teman supaya lebih sering membaca buku, lebih sering ikut kegiatan di sekolah maupun di luar sekolah, agar mereka berani keluar dari comfort zone,” ungkapnya.

Sementara itu, kisah Aflah berawal dari sebuah email yang hampir saja diabaikan.

Ia mengira pesan tersebut hanya berisi permintaan melengkapi berkas administrasi. Ternyata, email itu membawa kabar bahwa dirinya lolos Program Pertukaran Pelajar Bina Antarbudaya ke Norwegia.

Saya kira emailnya itu hanya untuk menyiapkan berkas tambahan, jadi agak malas buka email. Tapi saat dibuka ternyata pengumuman lolos. Orang pertama yang saya beri tahu adalah ibu, lalu ayah setelah pulang kerja. Orang tua juga senang,” ujarnya.

Menghadapi kehidupan baru di Eropa bukan perkara mudah. Perbedaan budaya membuat siswi kelas XI IPA itu mulai mempersiapkan diri jauh sebelum keberangkatan.

Ia bahkan mencari teman asal Norwegia melalui media sosial untuk mengenal karakter masyarakat setempat.

Saya lebih mencoba untuk membuka diri karena cara berpikir dan kultur pasti berbeda. Saya cari teman orang Norwegia di TikTok, tanya-tanya seperti apa orang Norway. Saya juga ingin punya banyak teman di sana karena ini kesempatan membangun relasi,” katanya.

Di balik persiapan itu, Aflah juga menyimpan impian sederhana.

Saya pengen melihat salju, juga pengen lihat aurora. Karena di sini iklimnya tropis, saya ingin merasakan sesuatu yang berbeda,” ucapnya.

Aflah pun berpesan agar pelajar lain tidak ragu mengejar kesempatan serupa.

Peluang itu akan selalu datang. Pertanyaannya, apakah kita siap atau tidak. Jadi persiapkan diri dari sekarang dan cari banyak pengalaman, karena kita tidak tahu pengalaman mana yang akan membawa kita lolos,” pesannya.

Dari Palu menuju Korea Selatan dan Norwegia, Muddatsir dan Aflah akan membawa mimpi yang sama: menunjukkan bahwa pelajar Sulawesi Tengah mampu berdiri sejajar dengan generasi muda dunia. (*)


 

IKLAN