APBD 2027 Kota Palu Diproyeksi Rp2,1 Triliun
EVALUASI - Ketua Banggar DPRD Kota Palu,Ratna Maya Sari Agan (tengah), saat menjelaskan terkait target PAD (Andika Nur Hikmah/ Radar Sulteng).
Banggar DPRD Kota Palu Cermati Target PAD
PALU, Radar Sulteng – Target Pendapatan Asli
Daerah (PAD) Kota Palu menjadi sorotan dalam rapat kerja hasil pertemuan mitra
Komisi A, B, dan C bersama Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kota Palu.
DPRD mengingatkan agar pemerintah daerah tidak
sekadar memasang target tinggi dalam penyusunan APBD 2027, tetapi benar-benar
menghitungnya berdasarkan potensi riil agar tidak berujung menjadi angka di
atas kertas.
Pembahasan tersebut mengemuka dalam rapat
kerja yang digelar di Gedung DPRD Kota Palu, Jalan Moh. Hatta, Jumat
(24/07/2026), dipimpin Muhlis U. Aca dan dihadiri Ketua Banggar Ratna Maya Sari
Agan, Ketua Komisi A Irsan Satria, Ketua Komisi B Ruslan Ramli, Ketua Komisi C
Abdurrahim Nasar Al’amri, anggota DPRD dari berbagai Komisi, serta panitia
Banggar.
Ketua Banggar DPRD Kota Palu Ratna Maya Sari
Agan mengungkapkan, proyeksi APBD Kota Palu pada 2027 diperkirakan meningkat
menjadi sekitar Rp2,1 triliun dari sebelumnya sekitar Rp1,7 triliun. Di balik
kenaikan tersebut, terdapat target pendapatan, khususnya sektor pajak daerah,
yang melonjak hingga sekitar Rp280 miliar.
Menurut Ratna, peningkatan itu perlu dikaji
secara cermat agar target yang ditetapkan benar-benar realistis dan dapat
dicapai.
Melihat komposisi yang sudah diberikan kepada kita terkait data KUA-PPAS 2027 itu APBD kita Rp2,1 triliun. Naiknya cukup signifikan dari Rp1,7 triliun. Catatan kami, pada saat pembahasan nanti teman-teman di Banggar betul-betul bisa melihat data, terutama data pendapatan,” kata Ratna Maya Sari Agan.
Ia menegaskan, Banggar tidak ingin target
pendapatan disusun secara berlebihan tanpa memperhatikan kondisi di lapangan.
Sebab, target yang terlalu tinggi justru berpotensi menyulitkan pemerintah
daerah ketika realisasi penerimaan tidak sesuai harapan.
Data pendapatan khusus pajak itu naik kurang lebih Rp280 miliar. Kita bukan pesimis, tetapi kita mau merasionalkan. Artinya segala sesuatu itu harus kita tetapkan berdasarkan objek yang ada atau potensi yang ada,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Komisi B DPRD Kota Palu
Ruslan Ramli juga memaparkan hasil evaluasi realisasi PAD semester pertama. Ia
menyebut capaian antar-OPD masih beragam. Ada perangkat daerah yang berhasil
melampaui target, namun tidak sedikit yang realisasinya bahkan belum menyentuh
50 persen meski tahun anggaran telah berjalan setengah.
Masih ada beberapa OPD terkait dengan belum merealisasikan target pendapatan asli daerah yang dibebankan. Ada beberapa program yang bisa melampaui target, tetapi ada juga yang masih setengah dari target padahal sudah berjalan satu semester,” ujarnya.
Ruslan mencontohkan, retribusi Rumah Potong
Hewan (RPH) masih menghadapi kendala sehingga target belum tercapai.
Kondisi serupa juga terjadi pada pengelolaan
pasar, di antaranya Pasar Talise yang belum berfungsi optimal dan Pasar
Tavanjuka yang masih membutuhkan dukungan fasilitas agar mampu menarik lebih
banyak aktivitas perdagangan.
Karena itu, DPRD meminta evaluasi terhadap
target PAD tidak hanya berorientasi pada angka, tetapi juga dibarengi
pembenahan fasilitas dan optimalisasi layanan OPD agar sumber-sumber pendapatan
daerah benar-benar dapat dimaksimalkan pada tahun anggaran berikutnya.(Cr1)
.png)

