Aksi Morowali Desak Penuntasan SiLPA Rp848,77 Miliar
Persoalkan Dana Hibah ke APH Sampai Rp75 Miliar
Morowali, Radar Sulteng – Aliansi Peduli Morowali menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Bupati Morowali, Senin (6/7/2026). Massa menyatakan akan bertahan di lokasi hingga Bupati Morowali bersedia menemui dan berdialog langsung dengan para demonstran.
Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Zulfikar, menegaskan
massa tidak akan membubarkan diri sebelum tuntutan mereka mendapat respons dari
pemerintah daerah.
Kami akan bertahan sampai Bupati mau menemui massa aksi dan mendengarkan langsung aspirasi masyarakat," tegas Zulfikar saat dihubungi melalui telepon.
Aksi yang mengusung tema "Selamatkan Morowali" itu
diawali dengan titik kumpul di Lapangan Sangiang Kinambuka Marsaoleh sebelum
massa bergerak menuju Kantor Bupati Morowali.
Dalam seruannya, Aliansi Peduli Morowali menilai daerah
tersebut tengah mengalami krisis tata kelola pemerintahan. Massa juga membawa
berbagai poster dan menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah daerah.
Pada aksi tersebut, massa menyampaikan 10 tuntutan kepada
Pemerintah Kabupaten Morowali. Tuntutan pertama adalah menghentikan pemborosan
anggaran daerah, termasuk menolak pemberian hibah sebesar Rp75,5 miliar kepada
lembaga vertikal.
Massa juga mendesak pemerintah memperbaiki sistem
perencanaan pembangunan agar lebih partisipatif serta menyelesaikan persoalan
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) sebesar Rp848,77 miliar sehingga
anggaran dapat terserap secara efektif.
Selain itu, Aliansi Peduli Morowali meminta pemerintah
mengoptimalkan pengelolaan dana Corporate Social Responsibility (CSR) agar
manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Dalam bidang ketenagakerjaan, massa menuntut pembayaran gaji
guru secara layak dan tepat waktu serta pemenuhan hak-hak tenaga outsourcing di
lingkungan pemerintahan.
Massa juga menyuarakan penolakan terhadap aktivitas
pertambangan PT Duta Sarana Batuan, PT Batu Alam Prima, dan PT Dua Saudara
Nikelindo di wilayah Bungku Tengah, sekaligus meminta pemerintah tidak
menerbitkan izin tambang baru di kawasan tersebut.
Tuntutan lainnya meliputi pemenuhan kebutuhan gas dan minyak
bagi masyarakat sesuai janji pemerintah, peningkatan dukungan terhadap sektor
pertanian melalui perbaikan jalan tani, distribusi pupuk subsidi, akses BBM
untuk alat pertanian, serta pembenahan sistem irigasi.
Aliansi Peduli Morowali juga meminta pemerintah meningkatkan
kesejahteraan nelayan melalui realisasi program Pancaroba, pemerataan akses
listrik dan jaringan internet bagi masyarakat kepulauan, serta perhatian
terhadap nelayan yang terdampak aktivitas pertambangan.
Di sektor pendidikan, massa mendesak pemerintah menuntaskan
pembangunan infrastruktur pendidikan mulai dari jenjang dasar hingga perguruan
tinggi serta mengelola program beasiswa secara partisipatif dan transparan. (bar)
